SALAH KAPRAH PEMBINAAN ATLET ACEH

Dokumen Tak Diurus, Atlet Berprestasi Ini Gagal Ikut PON Jabar

·
Dokumen Tak Diurus, Atlet Berprestasi Ini Gagal Ikut PON Jabar
Nur Wahyu Afriani, atlet berprestasi asal Aceh Tengah yang gagal mewakili kontingen Aceh di PON XIX Jawa Barat. Foto: ist
BANDA ACEH – Nur Wahyu Afriani memendam rasa kecewa teramat dalam. Impiannya berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON)) XIX di Jawa Barat pupus hanya karena urusan administrasi.

“Atlet mana yang tak ingin berlaga di PON,” kata Riri--sapaan Nur Wahyuni Afriani--kepada AJNN, Senin (19/9). "Ini adalah even olahraga bergengsi. Semua atlet Indonesia akan sangat tertantang untuk berlaga di ajang ini."

Riri memiliki seabrek prestasi di dunia balap sepeda. Dara kelahiran Aceh Tengah ini kerap menyabet medali, dari emas sampai perunggu, di sejumlah kejuaraan tingkat regional dan nasional.

Prestasi ini membuatnya dilirik oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Riau. Di PON Jawa Barat, Riri rencananya akan berlaga mewakili provinsi itu. Namun KONI Aceh tak bersedia melepas Riri ke Riau.

Di PON Riau, pada 2012, Riri berhasil meraih medali perak. Dia dikontrak sejak 2011 hingga 2014 untuk berlaga bagi kontingen Riau. Dan kali ini, KONI Riau menginginkan Riri kembali mewakili daerah mereka.

“Dulu kami dikontrak sama Riau karena KONI Aceh tidak peduli sama kami,” kata anggota Kepolisian Resor Bireuen berpangkat brigadir dua ini.

Guna mendapatkan kembali jasanya, KONI Riau meminta izin kepada Polda Aceh. Polda Aceh, kata Riri, tak berkeberatan sepanjang Riri mendapatkan rekomendasi dari KONI Aceh untuk berlaga mewakili Riau di PON 2016.

“Tapi KONI Aceh tidak mengeluarkan surat rekomendasi. Sudah tiga kali minta izin. Tapi KONI Aceh tidak beri izin. Mereka ingin Riri ikut dari Aceh, bukan dari Riau,” jelas Riri. KONI Riau akhirnya mengalah dan harus rela melepas Riri kembali ke Aceh.

Namun semua tak seindah di angan. Keinginan besar Riri mewakili tanah kelahirannya di PON 2016 pupus hanya karena KONI Aceh tidak mengurus kelengkapan berkas administrasi agar Riri bisa berlaga di Jawa Barat.

“Biasanya atlet itu ada surat pernyataan. Misalnya sudah pindah ke Aceh, surat keterangan dari KONI Riau ke KONI Aceh. Jadi harus mengurus surat-surat itu biar bisa ikut PON, tapi KONI Aceh kayak menggantung kita. Riri tidak bisa ke sana (Riau), tidak bisa ke sini (berlaga untuk Aceh),” ujar Riri.

Sampai saat ini, kata Riri, tak ada komunikasi dari KONI Aceh. Parahanya, Riri mengetahui dirinya dilepaskan oleh KONI Riau dari salah satu media massa di Aceh, bukan keterangan resmi dari KONI Aceh. Namanya kemudian dicoret dari kontingen Riau digantikan oleh pebalap sepeda Ricky Leonardo.

Riri adalah jaminan prestasi. Dan dia juga menjadi satu dari banyak atlet Aceh yang harus berjuang sendiri. Padahal, catatan prestasinya cukup mentereng. Di Pekan Olahraga Daerah Bireuen 2010, dia meraih 3 medali emas, 3 perak dan 1 perunggu.

Di Kejuaraan Nasional di Palembang 2010, dia meraih juara 1 MTB (sepeda gunung). Di Kejuaraan Nasional Open Championship di Sabang 2011, dia meraih 1 emas dan 1 perak. Di Kejurnas Open Championship di Jakarta, setahun kemudian, dia kembali meraih 1 perak dan 1 perunggu.

Pada Kejurnas Tanjakan di Bogor 2012, Riri meraih 1 perunggu. Pada 2013, di Kejurnas Tangerang, dia meraih 1 perak. Di Bandung, di tahun yang sama, dia meraih 1 emas. Di Kejurnas Sabang 2012 dia meraih 2 emas dan PON Riau 2012, Riri mendapatkan 1 perak.

“Maunya mewakili Aceh. Tapi (KONI) Aceh tidak peduli. Bagaimana mau mewakili kalau yang diwakili tak peduli,” kata Riri.

Komentar

Loading...