Topik

Dituding Serobot Sejengkal Tanah, Tgk Imeum Diperkarakan Panitera Mahkamah Agung

·
Dituding Serobot Sejengkal Tanah, Tgk Imeum Diperkarakan Panitera Mahkamah Agung
Burhanuddin menunjukkan dinding rumah yang diperkarakan Ilza Noer. Foto: Safrizal.

LHOKSEUMAWE - Burhanuddin Kaoy (61) warga Dusun Kampung Keramat,
Gampong Sp IV, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, hanya bisa tertunduk lesu di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Lhokseumawe, Selasa (3/1).

Dia didakwa menyerobot 20 sentimeter tanah tetangganya, T Ilza Noer, seorang panitera di Mahkamah Agung.

Dalam persidangan itu, Burhanuddin, yang hadir tanpa didampingi pengacara, mengungkapkan kejanggalan yang dialaminya dalam perkara sengketa tanah itu.

Menurut Burhanuddin, pada 2007, dia membeli sepetak tanah selebar 4 meter dengan panjang 15 meter dari Ayub Hanafiah, warga Kampung Keramat, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe.

Di atas tanah itu pula Burhanuddin membangun rumah yang berbatasan langsung dengan rumah Ayub.

Lima tahun kemudian, Ayub menjual rumahnya kepada Cut Mulyati, istri Ilza Noer. Semua berjalan normal sampai 13 Mei 2015. Burhanuddin dilaporkan ke polisi oleh T Alamsyah Gempar, adik Cut Mulyati, atas tuduhan menyerobot
lahan.

Padahal, lanjut pria paruh baya itu, dia memiliki surat kesepakatan yang menyatakan bahwa dinding beton yang dibangun di atas tapak tanah selebar 20 sentimeter bersama dengan Ayub menjadi miliknya dengan membayar  Rp 3 juta kepada Ayub.

"Itu saya bayar sebelum rumah Ayub berganti pemilik," kata Burhanuddin.

Menurut Burhanuddin, kasus ini pernah diupayakan penyelesaiannya secara musyawarah di kampung. Namun pelapor bersikukuh tanah diding beton itu miliknya.

Yakin akan haknya, Burhanuddin memilih menjalani pemeriksaan, sejak di kepolisian hingga ke pengadilan, tanpa didampingi seorang pengacara. Dalam persidangan tadi siang, dia dituntut tujuh bulan kurungan.

Ketua majelis hakim M Yusuf mempersilakan Burhanuddin membela diri dalam sidang yang akan kembali digelar pada Rabu pekan depan.

"Saya pasrah saja. Apalagi saya orang tidak punya dan awam. Saya pernah ditawarkan didampingi pengacara oleh penyidik polisi, saya tidak mau, karena tidak punya uang," kata Burhanuddin.

Namun sepertinya dia akan memilih seorang pengacara dari lembaga bantuan hukum untuk mendampinginya. Apalagi dia tahu negara memberikan bantuan hukum kepada warga yang tengah berhadapan dengan hukum.

 

Komentar

Loading...