Unduh Aplikasi

Disdik Aceh Barat Batalkan Sepihak Pemenang Lomba Tari FL2SN

Disdik Aceh Barat Batalkan Sepihak Pemenang Lomba Tari FL2SN
Fahratul (Tengah) bersama rekannya, penari peucicap aneuk.

ACEH BARAT - Raut wajah ceria tiba-tiba menjadi tangis bagi Fahratu Zahira Afra (11) siswa SD Negeri 2 Meulaboh. Kecewa dibalut sedih tidak bisa disembunyikan Fahratu setelah Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Barat secara tiba-tiba membatalkan kemenangan ia dan timnya sebagai juara tari dalam lomba Festival Dan Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN), yang telah diumumkan sebagai pemenang oleh dewan juri.

Pembatalan itu, dilakukan Dinas Pendidikan setempat sehari setelah pengumuman pemenang. Pengumuman pemenang tari itu berlangsung pada Selasa (29/7) dan dibatalkan pada Rabu (30/7).

Tarian yang dibawakan Fahratu dan rekannya saat itu hingga menjadi pemenang bertema pecicap aneuk atau pemberian nama terhadap anak yang baru lahir.

Dodi Gusnandar L, orang tua Fahratu mengatakan Fahratun bersama rekannya yakni Cut Putri Widya Weta dan Cut Putri Maulida mengetahui pembatalan pemenang itu dari etelah guru SD Negeri 2 Meulaboh menghubungi istrinya (ibunya Fahratu).

"Jadi malam itu istri saya sudah mulai mengemas pakaian anak saya (Fahratu) dan juga aktenya untuk persiapan keberangkatan ke Banda Aceh guna mewakili Aceh Barat dalam FL2SN, namun tiba-tiba gurunya telepon mengatakan kemenangan mereka dibatalkan sehingga tidak jadi mewakili Aceh Barat, lalu istri saya kan menceritakan sama anak saya dan dia langsung nangis," kata Dodi, kepada AJNN, Jumat, (2/8).

Menurut Dodi, tidak ada kata apapun dari Fahratu malam itu, Fahratu menangis tanpa berhenti, bahkan untuk menenangkannya, Dodi bersama istri mengajak jalan-jalan anaknya itu ke Banda Aceh selama dua hari namun ditolak Zahratu.

Tak menerima keputusan Disdik yang membatalkan kemenangan anaknya itu, Dodi mendatangi Disdik dan berhasil menjumpai Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Nuriyah dan sekretaris dinas itu, Addhari guna mempertanyakan alasan pembatalan.

Bukannya menerima alasan yang jelas atas pembatalan tersebut, kata dia, namun Nuriyah selaku Kabid Dikdas malah mengeluarkan bahasa yang tidak mengenakkan dan mengait-ngaikannya dengan agama.

"Saat itu saya bertemu ibu Nuriyah Kabid Dikdas. Ada juga sekdis. Disitu saya mempertanyakan alasan pembatalan tapi jawabannya malah tidak enak. Dia bilang sama saya cuma Alquran dan Hadist yang tidak dapat dirubah," kata dia.

Mendapat jawaban tersebut ia meminta kepada Nuriyah untuk tidak menghubung-hubungkan pembatalan juara anaknya itu dengan Alquran dan Hadist. Menurutnya harus ada kejelasan terkait pembatalan tersebut, terutama landasan hukum atas pembatalan tersebut.

Namun kata dia, dinas itu malah tidak bisa memberikan landasan hukun serta alasan pembatalan dari surat itu. Padahal kemenangan anaknya tersebut jelas-jelas keputusan dewan juri yang tidak dapat diganggu gugat sebagaimana surat keputusan juri saat mengumumkan kemenangan tersebut.

Jika memang juri dianggap tidak memiliki kemampuan atau berkompeten, kata dia, kenapa juri tersebut yang dipilih. Bagi Dodi keputusan pembatalan itu benar-benar aneh dan diluar kewenangan dinas.

Bukan hanya jawaban dari Kabid Dikdas yang tidak pantas disampaikan, namun jawaban dari Addhari menurutnya juga tidak pantas.

Disebutnya saat itu Sekdis Addhari, meminta kepadanya untuk tidak membesar-besarkan lagi persoalan tersebut, dan menurut Sekdis itu masalah kecil tersebut hanya masalah anak-anak jadi tidak harus terlalu dibesar-besarkan.

"Dapat jawaban itu saya kan marah karena ini menyangkut psikologis anak saya. Dan saya tanya sama dia coba kalau kejadian ini terjadi sama anak bapak, apa bapak bisa menerimanya. Dan sekdis diam. Lalu bilang begini saja masalah ini nanti kita selesaikan dan kita lihat lagi," ucapnya.

Sementara itu Kepala Sekolah SD Negeri 2 Meulaboh, Junidar mengaku kucewa dengan pembatalan tersebut. Namun tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusan dinas itu.

Dikatakan Junidar, alasan pembatalan dinas lantaran tari bertema peucicap aneuk tersebut tidak layak ditarikan oleh siswa SD. Padahal menurut Jurida, tari tersebut merupakan tari kolosal yang menceritakan tentang budaya Aceh.

"Kami kecewa atas pembatalan itu. Saat pembatalan itu kami dipanggil lalu diputar ulang video tersebut dan ada dewan juri tapi dewan juri yang lain disitu, bukan dewan juri sebelumnya. Habis itu dibatali dibilang tidak layak ditarikan anak-anak," kata Junidar.

Akibat pembatalan itu, sebutnya wali murid dari siswa yang ikut perlombaan tersebut mendatanginya dan mempertanyakan pembatalan dinas itu, namun ia tidak bisa menjawabnya karena bukan wewenangnya.

Bahkan Junidar mengatakan selaku kepala sekolah juga sudah mempersiapkan semua kebutuhan untuk perlombaan selanjutnya di Banda Aceh, salah satunya ayunan.

Sementara itu Kepala Disdik Aceh Barat, Ridwan Yahya saat dihubungi AJNN melalui telepon selularnya menolak panggilan.

HUT RI 74 - Pemkab Aceh Jaya
Idul Adha - Bank Aceh
Ubudiyah PMB 2019

Komentar

Loading...