Unduh Aplikasi

Dijanjikan Kerja di Bea Cukai, Warga Pidie Tertipu Puluhan Juta

Dijanjikan Kerja di Bea Cukai, Warga Pidie Tertipu Puluhan Juta
Terduga pelaku bernama Bakri. Foto: Ist

BANDA ACEH - Tujuh pemuda di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, menjadi korban dugaan penipuan oleh seseorang yang mengaku sebagai oknum pegawai Bea Cukai, bernama Bakri.

Tujuh pemuda itu dijanjikan akan lulus bekerja di Direktorat Bea dan Cukai. Caranya pelaku meminta uang kepada korban untuk jaminan agar lulus menjadi pegawai.

Pelaku selama ini tinggal di Gampong Jojo, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. Diketahui pelaku tinggal di gampong tersebut sudah dua tahun lebih bersama istri dan dua orang anaknya.

Salah seorang korban, Ilham Saputra mengaku sudah melaporkan kejadian dugaan penipuan tersebut ke Polsek Mutiata Timur. Ia sudah menyerahkan uang kepada pelaku sebanyak Rp 20 juta.

"Pelaku sehari-hari sangat baik dengan keluarga saya. Saya tidak tahu ternyata pelaku sudah menipu kami," kata Ilham Sahputra kepada AJNN, Selasa (13/3).

Pelaku, kata Ilham, sudah sangat dekat dengan keluarganya. Awalnya pelaku menanyakan kepadanya terkait nilai ijazah. Setelah ia memperlihatkan nilai ijazah, pelaku kemudian menawarkan kepada korban untuk diluluskan sebagai pegawai Bea Cukai.

"Pada bulan Maret 2017 kalau tidak salah saya diajak masuk Bea Cukai. Caranya adalah meminta uang dulu untuk diserahkan kepada atasannya," ungkapnya.

Ilham awalnya tidak yakin dengan pelaku. Namun karena pelaku sudah kenal dekat dengan keluarganya, kemuda ia percaya dan menyerahkan uang sebanyak Rp 20 juta.

"Awalnya diminta Rp 40 juta, karena saya tidak begitu yakin, saya kasih Rp 20 juta dulu," ujarnya.

Setelah uang itu diserahkan, Ilham bersama pemuda lainnya yang juga menjadi korban dugaan penipuan itu diajak ke Medan oleh korban untuk mengikuti tes berenang. Disana, korban dibawa ke Hotel Danau Toba, dan berjumpa dengan teman pelaku yang mengaku sebagai panitia seleksi.

"Nama teman pelaku itu bang Pen, mengaku sebagai panitia seleksi, kemudian kami dibawa ke kolam renang untuk ikut tes, disitu kami curiga kenapa hanya kami yang ikut tes, yang lain tidak ada," kata Ilham

Setelah tes berenang selesai, Ilham bersama korban lainya dibawa kembali ke Aceh untuk menunggu hasil pengumuman. Namun hingga bulan Juli, belum ada kepastian kapan pengumuman itu. Bahkan hingga akhir 2017 janji pengumuman tak kunjung ada.

"Kemudian pelaku menyampaikan ke kami bahwa akan dibawa ke Medan antara tanggal 5 atau 9 Maret 2018. Alasannya untuk ikut tes pendidikan, pengumuman dan langsung menerima Surat Keputusan (SK)," jelasnya.

Namun, kata Ilham, pelaku pada 7 Maret sudah kabur dengan alasan ingin menjenguk keluarga yang sakit di Banda Aceh. Ternyata barang-barang di rumah tempatnya tinggal sudah duluan diangkut.

"Nomor kontaknya teleponnya sudah tidak aktif lagi. Yang jelas uang yang diambil pelaku bervariasi, ada yang Rp 20 juta perorang, Rp 40 juta, Rp 50 juta sampai Rp 80 juta," ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Humas Bea Cukai Aceh Triyanto yang dikonfirmasi AJNN mengatakan Bakri memang pernah menjadi pegawai Bea Cukai. Namun sejak tahun 2015, Bakri sudah dipecat secara tidak hormat.

"Dia (Bakri) terakhir bertugas di Bea Cukai Bengkalis, tidak pernah bekerja di Bea Cukai Aceh," katanya.

Sehingga, kata Triyanto, segala sesuatu yang terkait dengan permbuatan Bakri tidak ada kaitannya lagi dengan Bea Cukai.

"Tidak ada kaitan lagi dengan instansi apapun kegiatan Bakri, karena memang sudah dipecat, saya kurang tahu kepada dipecat," jelasnya.

Komentar

Loading...