Dengan Segala Hormat

Dengan Segala Hormat

PEKAN ini, Aceh cukup dihebohkan dengan urusan narkoba. Di Aceh Tamiang, seorang pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah Tamiang ditangkap karena diduga mengedarkan narkoba jenis ekstasi. Dari rumah tersangka, polisi menemukan tujuh butir pil “joget” dalam satu bungkus kecil. Tersimpan di dalam lemari pakaian.

Di Banda Aceh, kejadiannya jauh lebih menghebohkan. Seorang politikus partai lokal asal Aceh Timur tertangkap di balee pemuda bersama rekan-rekan seperisapan sabu. Tentu saja banyak kekecewaan mengiringi penangkapan ini. Terutama karena anggota dewan ini berasal dari komisi yang membidangi masalah kesehatan. Dia juga pernah mengurusi bidang investasi.

Tak lama berselang, di simpang Jantho, Aceh Besar, anggota kepolisian memergoki seorang kurir yang mencoba mengantarkan dua bungkus sabu ke Aceh Barat. Jumlahnya pun cukup banyak, 2 kilogram. Sabu ini diambil di Aceh Timur. Si kurir akan mendapatkan uang Rp 10 juta jika berhasil mengantarkan barang itu dengan selamat.

Tiga hal ini hanya contoh kecil peredaran narkoba yang semakin masif di Aceh. Dengan memanfaatkan garis pantai yang panjang dan minim pengamanan, para penyelundup narkoba ini semakin lincah beraksi. Penggunanya pun semakin variatif. Dari kejadian sepekan ini, harusnya ada upaya luar biasa untuk mengempang peredaran narkoba di tengah masyarakat.

Salah satunya mungkin dengan pemeriksaan rutin urine para pegawai negeri sipil, politikus, pejabat publik, anggota kepolisian dan TNI, jaksa, hakim, sopir angkutan umum, serta unsur lain, termasuk wartawan. Gerak para pengguna narkoba harus dipersempit. Dengan demikian, para pengedar akan kesulitan memasarkan produk mereka.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, pemeriksaan ini jangan dianggap sebagai penghinaan. Mereka yang tak terlibat, mengonsumsi atau mengedarkan, tentu tak akan keberatan dengan hal ini. Perang ini harus dilakukan dengan banyak cara, tentu dengan tidak mengurangi rasa hormat.

data-ad-format="auto">

Komentar

Loading...