Hasanudin
Unduh Aplikasi

Dahlan Sulaiman: Harus Ada Regenerasi di Kepengurusan Kadin Aceh

Dahlan Sulaiman: Harus Ada Regenerasi di Kepengurusan Kadin Aceh
Dahlan Sulaiman

BANDA ACEH - Masa kepemimpinan Firmandez sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh berakhir pada 17 September 2018. Sejumlah kalangan berharap terjadi pergantian kepemimpinan yang akan membawa Kadin Aceh menjadikan organisasi ini lebih baik.

“Selama tiga periode terakhir Kadin Aceh, terjadi penurunan jumlah pengusaha yang bergabung sebagai anggota Kadin. Bahkan organisasi ini tak pernah merinci dan melaporkan jumlah anggota Kadin Aceh berdasarkan sektor dan sub sektor usaha ataupun berdasarkan kualifikasi: kecil, menengah dan besar,” kata M Dahlan Sulaiman, bekas Ketua Kadin Aceh, kepada AJNN, di sela-sela rapat di Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Jumat (14/9).

Parahnya lagi, kata Dahlan, Kadin Aceh tak pernah membina para pengusaha yang bergelut dalam kelompok usaha kecil dan menengah. Tak ada pelatihan ataupun solusi untuk memudahkan akses permodalan serta dukungan terhadap pemasaran produ UMKM di tingkat lokal alih-alih ke luar negeri.

Dahlan menilai kondisi ini menyebabkan Kadin tak berjalan sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi. Contoh lain tidak berfungsinya wadah para pengusaha ini adalah tak ada rapat kerja. Agenda ini harusnya dilaksanakan setahun sekali.

Di daerah, kata Dahlan, tak ada musyawarah daerah untuk menentukan kepengurusan. “Jikapun ada, pelaksanaanya tidak terbuka, tidak transparan serta tidak diketahui siapa pesertanya, kapan dan di mana dilaksanakan,” kata Dahlan.

Dahlan juga mengatakan bahwa Kadin Aceh tak mampu mendatangkan investor baik dari dalam maupun luar negeri. Harusnya, kata dia, Kadin Aceh memfasilitasi kehadiran investor. Hal ini berbeda dengan langkah pengurus Kadin Aceh sebelumnya yang melakukan perjalanan ke daerah lain dan luar negeri untuk mencari pengalaman dan menjaring partner bisnis.

Baca: Firmandez Bantah Siapkan Putra Mahkota untuk Jadi Ketua Kadin Aceh

“Jangankan mendatangkan investor, rapat dengan instansi terkait, seperti Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu saja tidak pernah dihadiri oleh Ketua Kadin Aceh. Beberapa (rapat) kali hanya diwakili. Itupun tidak memberikan pendapat. Malah asosiasi yang selalu hadir untuk memberikan masukan dan pendapat terkait dunia usaha di Aceh,” kata Dahlan.

Salah satu contoh ketidakpedulian pengurus Kadin Aceh tergambar jelas pada pertemuan antara delegasi pengusaha Malaysia dengan pengusaha Aceh. Acara ini digelar oleh Konsulat Jenderal Malaysia di salah satu hotel di Banda Aceh. Sepanjang hari, kata dia, tidak ada wakil Kadin Aceh di acara itu.

Perwakilan Kadin Aceh baru pada malam harinya saat makan malam. Sayang, kata Dahlan, sosok yang mewakili Kadin itu tak dikenal, baik dalam kapasitas sebagai pengurus Kadin atau usaha yang dilakoninya. “Setelah makan masuk sesi sambutan, eh (utusan) yang dari Kadin menghilang dari arena. Akhirnya kendali (acara) diambil oleh Apindo,” kata Dahlan.

Dahlan juga mengingatkan agar musyawarah provinsi kali ini tidak direkayasa untuk memilih sosok yang sama untuk periode ketiga, berturut-turut. Hal ini, kata dia, akan berdampak pada kinerja Kadin itu sendiri. "Harus ada regenerasi di Kadin Aceh. Ini penting."

Adi Maros
Gratis Bea Balik Nama Non BL - SAMSAT Aceh
Gayo Alas Mountain Int Fest 2018

Komentar

Loading...