Unduh Aplikasi

Cerdas Bicara dan Mampu Mendengar

Cerdas Bicara dan Mampu Mendengar
Aryos Nivada. Foto: Ist

Oleh: Aryos Nivada

SEMUA orang normal hampir bisa dipastikan bisa berbicara. Meski pekerjaan bicara bukanlah perkara mudah. Sepertinya semua orang tahu dan mengerti makna kalimat tersebut, tapi belum tentu tahu bagaimana susahnya melakukan aktivitas tersebut, apalagi bila dilakukan di depan orang banyak. Membicarakan sesuatu yang penting, tidak boleh salah dan sesuai data.

Kenapa demikian, karena pekerjaan ini akan menjadi istimewa bila dilakukan tidak sekedar bicara, namun juga menyertai latihan mendengar di dalamnya. Banyak yang lupa, bahwa kualitas berbicara, bukan saja persoalan bisa merespon apa yang dilihat, didengar dan dibaca, tetapi juga merespon banyak hal dengan mendengarnya lebih dalam dan dalam waktu yang tidak dibatasi.

Dalam hal ini, menarik dibahas profesi Juru Bicara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan Juru Bicara adalah orang yang kerjanya memberi keterangan resmi dan sebagainya kepada masyarakat umum. Pekerjaan ini akan yang mewakili suara kelompok atau Lembaga. Orangnya bisa menjadi “penyambung lidah” satu pihak kepada pihak yang lain.

Siapa saja yang perlu melakukannya? Jawabannya semua orang yang sedang bekerja dan beraktivitas dalam ruang publik yang luas. Namun belajar berbicara dengan disertai kemampuan mendengar adalah tipikal proses dalam memimpin diri sendiri.

Jadi wajar saja jika ada ungkapan kalau memimpin bukan dinilai dari bagaimana ia merespons suatu hal dengan cepat, tetapi ada bagian mendengar dan “membaca” situasi.

Ini penting, karena respon yang diberikan seseorang pada banyak hal yang ia lihat dan dengar akan menjadi berkualitas, dengan mempertimbangkan banyak kebutuhan orang lain (dibaca menjaga). Proses yang seperti ini akan berjalan menjadi pembelajaran hebat bagi seorang pembicara dan pemimpin, karena bisa membantunya menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas.

Apakah menjalani proses ini mudah dan sederhana? Tentu tidak, banyak variabel yang menyertai proses ini. Tidak sesederhana itu. Memimpin diri sendiri juga butuh variabel lain yang harus mampu menguatkan posisinya sebagai orang yang dipercaya. Orang yang bertugas di posisi ini akan menjadi representatif banyak, karena apa yang disampaikan kepadanya akan didengar oleh publik.

Menjadi representatif membutuhkan banyak sekali latihan. Pertama latihan untuk menjadi lebih responsif yang baik. Kenapa? Kita membutuhkan latihan dalam keseharian. Dimulai dari yang sederhana seperti mendengar aktif, berempati, fokus pada pemecahan masalah, disiplin serta kesediaan untuk berkolaborasi dengan banyak pihak, dan tidak alergi dalam bekerjasama.

Ia akan bicara mewakili orang penting, orang terkenal dan bisa jadi orang yang selama ini sangat dipercaya banyak kalangan. Tentu dibutuhkan kehati-hatian. Hati-hati bukan karena takut, tetapi karena harus bisa menyampaikan apa yang ia dengar, apa yang diamanahkan dan apa yang pas untuk disampaikan agar tidak menimbulkan kesalahan.

Bertugas sebagai orang yang posisinya seperti ini yang menyampaikan pesan kepada banyak pihak dan khalayak sama halnya dengan mengembangkan dan menyampaikan pesan-pesan yang tidak semuanya dipahami publik sebagai pendengar. Kecerdasan emosional dibutuhkan sebagai salah satu variabel pendukung lainnya.

Seorang Juru Bicara akan menyeimbangkan keterampilan komunikasi dan urusan publik dengan kegiatan “menjual” dan branding, dan mungkin bertanggung jawab atas konferensi pers, penampilan televisi, dan operasi untuk meningkatkan posisi dan reputasi organisasi mereka. Selain membuat pengumuman dan penampilan untuk mempromosikan organisasi, seorang Juru Bicara memainkan peran penting dalam hubungan masyarakat dan mengurangi dampak publisitas negatif.

Juru Bicara memainkan peran penting dalam mendapatkan informasi tentang organisasi ke publik dan mengendalikan aliran informasi tersebut. Mereka bekerja erat dengan yang ada di belakangnya, dengan profesional, untuk membuat pernyataan, memastikan bahwa informasi itu relevan dan tepat waktu.

Sebagai wajah dan suara sebuah lembaga, institusi atau pemerintahan, seorang Juru Bicara menyeimbangkan hubungan masyarakat dan manajemen di belakangnya.

Lihat saja, semisal berbicara di depan umum, mewakili organisasi, menjawab pertanyaan di konferensi pers dan acara publik. Selain itu harus terbiasa dengan prinsip dan praktik manajemen untuk berhasil membentuk pesan dan reputasi lembaganya.

Keberhasilan ini adalah sebuah capaian dari kesuksesan yang tinggi dari sebuah proses berbicara yang disertai kemampuan mendengar. Mengerti “wajah” media, memiliki keterampilan komunikasi baik dalam presentasi lisan tertulis.

Yang tidak kalah penting seorang Juru Bicara perlu fokus membangun jaringan mereka dan membangun hubungan dengan masyarakat. Tugas yang terakhir tidak hanya berlangsung sekali, tapi dalam jangka yang panjang.

Benar kata John Capucci and Timothy Cage, dalam bukunya yang berjudul "Living Proof: Telling Your Story to Make a Difference". Jika mendengar seharian tanpa harus komentar bisa membantu membangun menjadi Juru Bicara lebih efektif, kenapa tidak?

Seperti kata pepatah, menjadi pendengar yang baik kadang lebih menyenangkan daripada menjadi pembicara yang budiman. Terdengar simpel tapi menjadi pembelajaran yang dalam. Bagi siapa saja.

Penulis adalah Dosen FISIP Unsyiah

HUT RI 74 - Pemkab Aceh Jaya
Idul Adha - Bank Aceh
Ubudiyah PMB 2019

Komentar

Loading...