Unduh Aplikasi

Cara Yogyakarta Merawat Budaya

Cara Yogyakarta Merawat Budaya

Oleh: Rustam Effendi

LAGU itu dinyanyikan oleh anak-anak muda yang seumuran mahasiswa di sebuah daerah Nol KM Jogyakarta. "Selamat Tingggal Masa Lalu", judul lagu itu. Saya tak tahu nama grup band-nya.

Alunan musik diselingi denting halus suara gitar memancing penonton bergerak dengan antusias. Sebagian pengunjung yang dominan perempuan tampak setengah histeris sembari ikut menyanyikan syairnya. Malam terlihat sudah tengah malam, beranjak melewati pukul 00.00 WIB.

Yogyakarta

Saya dan rekan semasa SMA dulu dan kini menjadi staf pengajar di UGM itu tak berlama-lama di situ. Setelah mengambil gambar suasana "live music", kami beranjak menuju Malioboro.

Di Malioboro suasananya lain lagi. Kehidupan masih tampak ramai. Sedang dibangun pedestrian baru di satu sisinya. Suasana pedestrian lain yang sudah rapi, dilewati dengan nyaman oleh pengunjung. Tak ada gerobak penjual di atasnya. Bersih dari pedagang/penjual. Bisa diatur dengan baik. Kita pun begitu nyaman melewatinya.

Di sisi pedestrian ada tenda warung kuliner. Penikmat duduk lesehan. Dibelakangnya hotel berbintang lima. Terlihat begitu harmonis suasananya. Yang satu kehidupan moderen, disampingnya masih ditemui suasana yang lokalis dan terasa tradisional sekali. Itu sangat mengesankan. Semua menyatu dalam sebuah keharmonian.

Suasana di Yogyakarta

Beberapa cagar budaya dirawat dengan baik. Semua masih bisa dilihat alur perjalanannya. Tertera dan tersaji dengan rapi sekali, meski suasana moderen seperti cafe-cafe, mall, atau hotel-hotel, sudah sangat metropolis.

Itulah Jogyakarta. Masih seperti beberapa tahun yang lalu. Suasana budayanya yang kental masih terasa.

Jujur, kita harus kagum pada cara mereka merawat segala aset budayanya. Peninggalan masa lalu yang kini telah berusia ratusan tahun masih dipeluk erat, tak dicampakkan.

Pemerintah Aceh: Provinsi dan Kabupaten/Kota, dapat belajar dari cara Pemerintah Provinsi DIY mengelola daerahnya. Belajar antaranya tentang cara mereka mengelola dan mengalokasi anggaran pembangunan daerah dengan cara yang efisien, tapi efektif mencapai sasaran.

Mungkin, ada juga hal-hal yang tak sesuai dengan kebiasaan kita di Nanggroe. Tak mengapa, kita ambil yang baik dan tinggalkan apa yang tak sesuai untuk dipakai.

Penulis adalah Dosen FEB Unsyiah dan Pengamat Ekonomi

Radio Baiturrahman

Komentar

Loading...