Unduh Aplikasi

Buron Sejak 2011, DPO Koruptor RSIA Ditangkap

Buron Sejak 2011, DPO Koruptor RSIA Ditangkap
Koruptor pengadaan obat di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh, Mahirul Athar saat akan dibawa ke Lapas Banda Aceh, Rabu (10/10)

BANDA ACEH - Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh menangkap terpidana korupsi kasus pengadaan obat di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh, Mahirul Athar, Rabu (10/10). Mahirul Athar masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak tahun 2011, setelah Mahkamah Agung mengeluarkan putusan banding yang menyatakan Direktur Umum PT. Riski Namuda itu terbukti bersalah.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Negeri Banda Aceh, Iskandar mengatakan, pria berusia 36 tahun itu ditangkap usai menjalani pemeriksaan di Markas Kepolisian Kota Banda Aceh. Sebelumnya, Kejari Banda Aceh menerima informasi keberadaan Mahirul yang akan diperiksa di Mapolres.

"Mendapat info tersebut tim langsung ke lokasi dan usai diperiksa langsung kita tangkap. Dikepolisian yang bersangkutan diperiksa untuk perkara penyalahgunaan BBM bersubsidi," kata Iskandar.

Mahirul Athar kata Iskandar merupakan Direktur Umum PT. Riski Namuda, rekanan proyek pengadaan obat-obatan di RSIA. Meski bukan sebagai pemenang tender dari proyek dari anggaran APBA 2007 itu, namun PT, Riski Namuda secara tiba-tiba menjadi pemenang dan melaksanakan pengadaan obat di RSIA.

"Tender dimenangkan PT Banda Naira, namun tiba-tiba PT Riski Namuda sebagai pemenang tender pengadaan obat-obatan. Dalam perkara ini dua dokter juga ditetapkan sebagai tersangka," ujar Iskandar.

Iskandar menambahkan di Pengadilan Negeri Banda Aceh, Mahirul Athar divonis selama 1,6 tahun dan mengajukan banding hingga kasasi ke Mahkamah Agung. Namun dalam putusannya, Mahkamah Agung, menyatakan Mahirul Athar terbukti bersalah dan menguatkan vonis Pengadilan Negeri Banda Aceh yang menghukumnya 1,6 tahun.

"MA juga diwajibkan membayar denda Rp50 juta subsider 4 bulan penjara dan uang pengganti sebesar Rp91 juta lebih, subsider satu bulan kurungan. Kerugian negara dalam kasus ini sebesar Rp547 juta," kata Iskandar.

Sementara itu usai menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis, Mahirul langsung dibawa ke Lembaga Permasyarakatan Banda Aceh.

 

Komentar

Loading...