Unduh Aplikasi

Bungong Jaroe Erich Wolf untuk Irwandi Yusuf

<i>Bungong Jaroe</i> Erich Wolf untuk Irwandi Yusuf
Irwandi Yusuf bersama Erich Wolf

BANDA ACEH - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah, pada Kamis (6/9) menyampaikan tanggapan atas pernyataan tersangka Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf terkait pengembalian uang Rp 39 juta ke lembaga antirasuah tersebut.

“Kami perlu sampaikan bahwa Irwandi Yusuf melalui kuasa hukumnya telah melaporkan penerimaan dalam bentuk uang ke direktorat gratifikasi KPK yang berjumlah total Rp 39 juta pada 11 Juli 2018 atau sekitar delapan hari sejak KPK melakukan tangkap tangan di Aceh,” kata Febri Diansyah.

Menurut Febri, KPK tidak dapat memproses laporan Irwandi tersebut dalam mekanisme pelaporan gratifikasi. KPK juga telah menerbitkan surat yang telah diserahkan kepada kuasa hukum Irwandi.

“Setelah melakukan analisis dengan mengacu pada Peraturan KPK No. 2 Tahun 2014, maka KPK menerbitkan surat tertanggal 14 Agustus 2018 yang intinya laporan tersebut tidak dapat diproses dalam mekanisme pelaporan gratifikasi karena saat ini sedang berjalan proses penanganan perkara dimana Irwandi Yusuf adalah salah satu tersangka,” jelas Febri Diansyah.

Lebih lanjut, Febri menjelaskan uang Rp 39 juta tersebut disita penyidik untuk kepentingan penanganan perkara. KPK juga mengingatkan agar setiap pejabat negara melakukan pelaporan gratifikasi sejak awal yaitu sebelum 30 hari.

“Kami juga mengingatkan kembali pada seluruh pejabat agar melakukan pelaporan gratifikasi sejak awal yaitu dalam waktu maksimal 30 hari kerja dan bukan justru baru melaporkan ketika sudah diproses secara hukum,” ujarnya.

Febri juga mengungkapkan bahwa hal ini penting karena salah satu yang dihargai dalam mekanisme pelaporan gratifikasi adalah kesediaan dan kejujuran melaporkan penerimaan gratifikasi meskipun belum diketahui pihak lain, belum pernah dilakukan pemeriksaan baik oleh pengawas internal ataupun penegak hukum.

Sebulan sebelum Irwandi terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh tim satuan tugas khusus (Sargasus) KPK, Irwandi Yusuf melakukan perjalanan ke Jepang bersama staf khususnya serta beberapa orang lainnya.

Dari penelusuran melalui akun Facebooknya pada tanggal 27 Mei 2018, Irwandi menulis bahwa keberadaanya di Chiba, Jepang, dalam rangka menyaksikan sekaligus menjajaki kerjasama pelaksanaan even Redbull competition di Aceh.

Status FB Irwandi Yusuf Tanggal 27 Mei 2018

“RedBull Competition bukan hanya urusan menonton balap pesawat. Ini urusan tenaga kerja cit. Di Jepang untuk acara kompetisi Red Bull nyoe 5000 droe tenaga kerja terserap dalam berbagai vendor. Na catering, konstruksi, sampe pengatur parkir. Nyoe kon masalah nonton balap kapai sagai, tapi masalah tenaga kerja. Ekonomi. Meunan cit ngon event - event laen, lagee PKA, PON dan lain - lain. Ujong jih lapangan kerja cit. Ekonomi cit,” tulis Irwandi

Bahkan, Irwandi juga menulis kalau yang menonton even tersebut hanyalah orang yang banyak uang saja.

“Yang nonton event nyan bah ureueng yang le peng mantong. Peng ureueng kaya, meunyoe hana geu belanjakan hana trok cit bak ureueng gasien. Ureueng gasien yang tem keurija. Tanyoe ureueng Aceh yg muda-muda ka terbiasa mengomentari sesuatu dengan cara mengejek dan mem-bully. Negativisme. Coba lihat setiap ada status, orang cenderung menanggapinya dengan mencari-cari kesalahan, mengejek, dan memaki. Kadang-kadang kita bisa habis kesabaran juga,” tulis Irwandi.

Baca: Uang Pengembalian Irwandi Tidak Dapat Diproses sebagai Laporan Gratifikasi

Dalam statusnya itu, Irwandi juga menuliskan rancananya untuk menyeleggarakan Even RedBull Air Race pada tahun 2020 yang sama sekali tidak menggunakan APBA.

“Kembali ke rencana event RedBull Air Race tahun 2020 di Aceh yang tidak menggunakan dana APBA adalah untuk ekonomi rakyat juga. Pendanaan dari sponsor. Mari menjadi pelaku ekonomi. Tinggalkan kebiasaan wa ulee teu’ot. Jangan tunggu ureueng laen jak peu’ap bu keu geutanyoe. Tinggalkan kebiasaan mengeluh seakan kita miskin karena kelakuan orang lain. Introspeksi, ngapain kita menjadi penghuni warung hampir sepanjang malam dan hari,” tulis Gubernur Aceh nonaktif itu.

Terakhir, ia menuliskan ajakan untuk berubah “Ayo berubah, kalau bukan sekarang kapan lagi,” lanjutnya.

Hal yang sama juga juga dapat dilihat pada akun Facebook Hendri Yuzal, ajudan Irwandi Yusuf yang juga ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Hendri Yuzal pada tanggal 26 Mei 2018, melalui akun Facebooknya menjelaskan bahwa Gubernur Aceh Irwandi Yusuf berada di Chiba, Jepang, untuk memenuhi undangan Erich Wolf General Manager of the Red Bull Air Race guna menjajaki kemungkinan penyelenggaraan even Red Bull Aur Race di Aceh.

Status FB Hendri Yuzal Tanggal 26 Mei 2018

“Gubernur Aceh Irwandi Yusuf memenuhi undangan ke Chiba, Jepang, untuk bertemu Erich Wolf, General Manager of the Red Bull Air Race dalam rangka membahas kemungkinan diselenggarakannya ajang Red Bull Air Race di Indonesia, khususnya Aceh,” tulis Hendri Yuzal.

Dalam pertemuan, Irwandi Yusuf menjelaskan kondisi alternatif lokasi Lampuuk, Lhoknga, dan Teluk Sabang, yang dilengkapi dengan fasilitas dua bandara eksisting yaitu Bandara Maimun Saleh dan Bandara SIM di Aceh Besar.

“Kedua lokasi strategis itu menggambarkan bahwa ruang udara Aceh cukup lega untuk dijadikan ajang Red Bull Air Race World Championship. Insyaallah 2020!,” tulis Hendri Yuzal.

Dalam pertemuan tersebut, melalui foto-foto yang diunggah melalui akun Facebook Irwandi Yusuf maupun Hendri Yuzal, Irwandi Yusuf saling bertukar “bungong jaroe” dengan Erich Wolf.

Dalam salah satu foto yang diunggah, Erich Wolf menerima hadiah berupa plakat bergambar pintu Aceh, sedangkan sebaliknya Erich Wolf menyerahkan satu unit jam tangan dengan merek Hamilton.

Irwandi Yusuf menerima hadiah Jam Merek Hamilton dari Erich Wolf

Agar tidak sama nasibnya dengan pengembalian uang Rp 39 juta, seharusnya hadiah berupa jam tangan Hamilton tersebut telah dilaporkan Irwandi Yusuf sebelum 30 hari setelah hadiah jam tangan tersebut diterima dari Erich Wolf. Semoga!

Komentar

Loading...