Unduh Aplikasi

Biar Akademisi Menulis Jurnal Ilmiah

Biar Akademisi Menulis Jurnal Ilmiah
Ilustrasi: www.sciencemag.org

Oleh: Muhammad Nizar*

Salah satu parameter keunggulan kampus-kampus berkualitas adalah berapa banyak jumlah artikel ilmiah yang diterbitkan oleh akademisinya dan berapa banyak jurnal ilmiah terakreditasi yang diterbitkannya. Artikel dan jurnal adalah suatu kesatuan yang tidak terpisahkan, artikel yang bagus tentunya dimuat di jurnal yang mumpuni juga.

Pemerintah pun, lewat Kemenristekdikti, terus mendorong dua hal ini ditingkatkan di kampus-kampus dalam negeri. Jumlah artikel terus ditingkatkan agar bisa menaikan rating universitas dan bisa sejajar dengan kampus-kampus lain di Indonesia bahkan di dunia. Banyak upaya telah dilakukan misalnya memberikankesempatan dosen-dosen untuk menimba ilmu di kampus unggulan sehingga diharapkan usai studi bisa menghasilkan artikel ilmiah dari risetnya.

Pelatihan dan workshop penulisan jurnal ilmiah pun sudah tak terhitung lagi dilaksanakan. Namun masih ada yang dirasa kurang, yaitu bagaimana meningkatkan kualitas jurnal ilmiah. Hal ini masih terabaikan oleh banyak pengelola kampus. Artikel dan jurnal adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tak mungkin kita mengharapkan artikel berkualitas muncul namun disisi lain mengabaikan pengelolaan jurnal.

Standar yang digunakan oleh Kemeristekdikti adalah standar internasional yaitu Jurnal yang terindek Scopus. Indek ini secara sederhana dapat kita katakan menunjukan baiknya pengelolaan sebuah jurnal sehingga isinya layak untuk dijadikan referensi. Pertanyaannya adalah, sudahkah kampus-kampus di Indonesia terindeks Scopus? Sudahkan jalan kearah akreditasi jurnal dilakukan oleh kampus. Bahkan untuk jurnal yang terakreditasi nasional saja, kampus-kampus di Indonesia masih kurang memenuhi standarnya.

Kebijakan Penelitian
Peraturan pemerintah yang mewajibkan akademisi untuk mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya di jurnal yang bereputasi harus disambut dengan baik. Peraturan ini tentunya sudah dibuat setelah melewati sejumlah kajian serius. Publikasi merupakan bagian penting dari penelitian karena hasil penelitian dapat diketahui oleh khalayak ramai, dapat diverifikasi, dikembangkan kembali dan tentu saja
dimanfaatkan untuk kebaikan umat manusia.

Kebijakan ini juga dibuat untuk mendorong akademisi rajin meneliti dan menulis laporannya karena disinyalir selama ini akademisi Indonesia rendah dalam melakukan penelitian serta dalam publikasi ilmiah. Apalagi publikasi di jurnal ilmiah bereputasi baik nasional dan internasional masih dirasa kurang. Kebijakan ini nantinya diharapkan akan menjadi pemicu jumlah publikasi semakin meningkat di tingkat internasional dan pemerintah pun berjanji memberikan insentif.

Terbatasnya jurnal bereputasi
Jurnal yang dipilih untuk menerbitkan hasil riset haruslah sesuai dengan topik penelitian dan ini merupakan tantangan tersendiri. Semakin luasnya disiplin keilmuan berimplikasi dengan semakin beragamnya topik penelitian yang dilakukan. Mulai dari penelitian sosial dan eksakta, kualitatif dan kuantitatif bahkan penelitian dengan campuran paradigma.

Terbatasnya topik jurnal bereputasi dalam negeri menyebabkan peneliti harus berpaling ke jurnal luar negeri. Ini akan menimbulkan dampak antrian artikel yang panjang pada jurnal-jurnal tersebut tanpa kepastian pemuatan. Padahal akademisi butuh kepastian pemuatan artikel sebagai bahan laporan atau keperluan lainnya.

Indeks scopus ini menjadi sebuah “penjajahan” tersendiri di bidang akademis. Jumlah nya terbatas apalagi dibandingkan dengan ribuan manuskrip yang antri untuk dimuat. Penentuan sebuah jurnal masuk dalam indeks scopus dilakukan oleh lembaga asing yang sudah tentu memiliki kriteria tersendiri sesuai dengan visi dan misi mereka.

Pemerintah harus mendorong terbentuknya jurnal-jurnal bereputasi di setiap daerah, minimal setiap regional memiliki jurnal bereputasi untuk setiap topic. Langkah ini harus dilakukan dengan serius misalnya membentuk unit khusus yang menyiapkan langkah-langkah ini. Pemerintah dapat menyeleksi sejumlah jurnal yang memang telah terbit namun harus dibina kembali agar meningkat kualitasnya.
Tetapkan parameter-parameter jurnal yang baik, berikan reviewer yang berkualitas, dukung dana penerbitan dan pelatihan secara berkala.

Selama ini pengelolaan jurnal di kampus-kampus masih dianaktirikan, tidak ada dalam struktur kampus, sering tidak di SK kan dan tidak diberikan penghargaan. Hal ini bertolak belakang dengan keinginan pemerintah meningkatkan jumlah publikasi artinya wadah artikelnya tidak ada sehingga terus bergantung dengan pihak asing. Hasil akhir dari upaya ini akan munculnya jurnal bereputasi milik anak negeri yang tetap berkualitas tinggi.

Kampus-kampus pasca sarjana sudah layak diwajibkan menerbitkan jurnal untuk tiap jurusan yang dikelola minimal sebagai wadah publikasi mahasiswanya. Sekarang masih ada pendidikan pasca sarjana yang tidak mempunyai jurnal sendiri.

Bahasa Inggris dalam Jurnal
Bagi sebagian peneliti, bahasa Inggris bukanlah hambatan dikarenakan memang mereka menguasainya dengan baik. Saat ini juga semakin banyak akademisi yang studi di luar negeri sehingga otomatis penguasaan bahasa Inggris nya semakin terasah dan semakin baik. Ada banyak pembimbing yang berbahasa sama di luar negeri sehingga proses koreksi dan review berjalan lancar. Namun hal
berkebalikan banyak menimpa rekan akademisi di dalam negeri.

Banyak akademisi yang tidak menguasai bahasa Inggris, kurang menguasai, tidak terlatih menulis dalam bahasa Inggris dan sebagainya. Jika dibebankan lagi untuk belajar bahasa Inggris tentu akan memakan waktu dan biaya. Hal ini terutama sering dihadapi oleh dosen yang studinya di dalam negeri di mana bahasa sehari-hari adalah bahasa Indonesia, menulis dalam bahasa Indonesia namun tiba-tiba harus
membuat karya ilmiah dalam bahasa Inggris.

Menulis sebuah karya ilmiah harus memenuhi kaidah-kaidah penulisan yang sesuai dengan tata bahasa dan sangat baku. Jalan keluar yang sering diambil adalah membayar penerjemah untuk melakukan penerjemahan artikel yang berimplikasi pada
bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan.

Kampus-kampus harus membentuk semacam klinik penulisan jurnal dalam bahasa Inggris. Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia telah menerapkan hal ini kepada mahasiswa pasca sarjananya sejak dari semester awal. Mahasiswa yang belajar menulis artikel untuk jurnal dibimbing secara intensif untuk penulisan hingga mereka ketika menyelesaikan penelitian maka selesai pula manuskripnya. Klinik ini
harus menjadi kewajiban bagi kampus-kampus yang membuka pendidikan pasca sarjana.

Sarana penelitian minim
Peralatan penelitian masih sangat minim disediakan oleh kampus-kampus dalam negeri terutama kampus swasta di luar Jawa. Peralatan yang minim ini menyebabkan terhambatnya proses penelitian misalnya saja berkurangnya parameter yang harus diukur sehingga kualitas riset juga berkurang. Hal ini sering terjadi pada penelitian bidang eksakta yang banyak menggunakan pengukuran terutama alat
laboratorium.

Namun hal ini juga terkadang terjadi pada penelitian ilmu-ilmu sosial dimana butuh aplikasi tertentu, literature tertentu ataupun berkonsultasi dengan ahli tertentu yang tidak tersedia. Jurnal internasional menuntut kualitas riset yang tinggi sehingga biasanya reviewer yang terdiri dari ahli di bidangnya dengan teliti memeriksa parameter riset. Jika dirasa ada yang masih kurang maka data
dimintakan untuk dilengkapi atau dengan kata lain peneliti harus melakukan penelitian ulang. Ini sering menjadi penghambat publikasi international.

Hal ini menjadi domainnya pemerintah dan yayasan bagi kampus swasta. Harus ada aturan yang ketat atau minimum bagi perguruan tinggi melengkapi peralatan risetnya. Masih ada kampus yang sama sekali tidak mempunyai peralatan riset. Alternatif lain pemerintah membentuk klaster-klaster riset yang dapat menggunakan peralatan yang tersedia dalam klaster yang sama. Selama ini untuk menggunakan peralatan harus meminjam dan perlu birokrasi yang tidak menentu.

Kerjasama antar klaster bisameningkatkan kualitas penelitian. Ini berbeda dengan penelitian bersama yang sering dilakukan oleh
kampus yang ternyata sama-sama tidak punya peratalan.

Dana publikasi
Sejumlah penerbit jurnal terindeks scopus meminta fee processing atau biaya pemuatan jurnal dalam jumlah jutaan dimana ini masih dirasa berat oleh peneliti Indonesia. Ada beberapa jurnal bereputasi yang menggratiskan pemuatan tapi jumlahnya sangat minim dan biasanya jurnal tersebut sangat prestisius dan antrian pemuatannya panjang oleh ilmuan-ilmuan dunia.

Hanya segelintir ilmuan Indonesia bisa tembus jurnal semacam ini padahal ada ribuan artikel butuh penerbitan di jurnal internasional. Biasanya penelitian yang didanai oleh pemerintah sudah dimasukan juga anggaran pemuatan artikel pada jurnal namun jika dana penelitian bersifat mandiri tentu ceritanya menjadi lain.

Solusi untuk permasalahan ini sangat jelas yaitu menambah dana publikasi dalam riset-riset. Ke depan kita berharap, kampus-kampus di Indonesia memiliki jurnal yang bereputasi. Jurnal bereputasi tidak mesti berbahasa Inggris namun harus memiliki pengelolaan yang sangat baik dari semua segi.

*) Penulis adalah mahasiswa S3 Prodi Pengelolaan Sumber Daya Alam & Lingkungan di Universitas Sumatera Utara.

Komentar

Loading...