Unduh Aplikasi

INTERMESO

Bersampah Dalam Kubur

Bersampah Dalam Kubur
Ilustrasi: plastic island

SAMPAH plastik akan terus menjadi permasalahan besar di Aceh dan seluruh daerah di Indonesia. Hal ini sangat terkait dengan cara pandang masyarakat terhadap penggunaan plastik yang kadung mendarah daging. Plastik sudah menjadi gaya hidup. Mengubah kebiasaan menggunakan plastik bukan hal mudah.

Di Ulee Lheue, Banda Aceh, misalnya, anggota Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia mengumpulkan 20 kantong sampah plastik hanya dalam beberapa jam saja. Sampah itu terdiri dari botol air kemasan, sedotan, kantong plastik, dan popok bayi. Sampah-sampah itu sengaja dibuang ke sela-sela batu tanggung penahan ombak. Keberadaannya jelas sangat mengganggu.

“Sampah, entah itu plastik atau lainnya, sangat bergantung dengan cara pandang masyarakat. Kalau tak ada gerakan yang mengubah cara pandang terhadap sampah, kita akan terus menghadapi permasalahan sama. Atau bahkan jadi lebih parah lagi karena sampah yang ada saat ini tak tertangani dengan baik,” kata Bang Awee kepada saya, satu hari di sebuah warung kopi di Banda Aceh.

Saat ini, kata Bang Awee, hampir semua produk menggunakan plastik sebagai kemasan. Mulai dari produk berharga seratus rupiah hingga ratusan ribu. Tapi tetap saja yang digunakan hanyalah isinya. Sementara kemasan akan berakhir di tempat sampah. Seberapa cantik dan menariknya kemasan itu.

Padahal, sampah adalah sumber penyakit dan bencana. Sampah plastik lebih buruk lagi dampaknya jika cara kita memperlakukannya tidak berubah. Satu sedotan plastik dari setiap gelas yang kita pesan, misalnya, kata Bang Awee, akan berdampak pada menumpuknya sampah plastik. Padahal, tanpa sedotan plastik pun, kita bisa menikmati minuman. Atau bagi mereka yang ingin menikmati minuman lewat sedotan, bisa membeli sedotan dari metal yang bisa dipakai berulang-ulang.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan dan dirilis oleh Divers Clean Action pada 2017, orang-orang di 10 kota besar di Indonesia menghabiskan 93.244.847 batang sedotan per hari. Jika ditautkan, sedotan ini akan memanjang sejauh 16.784 kilometer. Sama dengan jarak Jakarta ke Mexico City.

Sampah sebanyak ini jelas menjadi masalah pelik. Tidak hanya di darat. Sedotan bekas juga mencemari lautan. Banyak biota laut mati akibat tersedak. Bahkan beberapa waktu lalu, seekor paus ditemukan mati dengan perut penuh sampah plastik. Ada juga gambar mengenaskan tentang seekor penyu yang tersedak sedotan plastik di hidungnya.

Kantong plastik? Lebih parah lagi. Setiap tahun, masyarakat diperkirakan menggunakan 100 miliar kantong plastik. Dulu, kata Bang Awee, setiap ke pasar, emak-emak kita selalu membawa keranjang untuk meletakkan sayur atau barang-barang yang akan dibawa pulang. Tapi sekarang, peran keranjang itu berganti dengan kantong plastik dengan berbagai ukuran. Sampahnya pun sering berakhir di parit ketimbang didaur ulang. Padahal, dengan menggunakan keranjang, kita tak perlu lagi menggunakan banyak kantong plastik.

“Sampah plastik juga merusak kesuburan tanah. Tapi sayang, perilaku dan cara pandang kita terhadap sampah plastik tidak berjalan seiring dengan kecerdasan dalam menggunakannya. Pada akhirnya, kita akan hidup di atas tumpukan plastik. Dan kelak nanti, di dalam kubur, jenazah kita akan diletakkan di sekeliling sampah karena tak ada lagi tanah yang tidak tercemar,” kata Bang Awee.

Komentar

Loading...