Unduh Aplikasi

INTERMESO

Berlebaran dengan Produk Cina

Berlebaran dengan Produk Cina
ilustrasi: saying truth

URUSAN lebaran membuat banyak orang pusing. Apalagi di saat uang tak banyak beredar, lapangan kerja minim, penghasilan menurun, serta harga kebutuhan naik. Bahkan tanpa kenaikan harga saja, sudah banyak rakyat kelimpungan.

“Alhasil, banyak yang gelap mata. Angka kejahatan menjelang lebaran ini meningkat. Ini semua dampak dari budaya serba baru yang terlalu mengakar di masyarakat kita,” kata Bang Awee.

Dari kecil, anak-anak diajarkan untuk mengenakan pakaian baru. Di kalangan yang lebih tua, lebaran juga ditandai dengan kendaraan baru, hape baru, atau cat rumah baru. Belum lagi budaya bagi-bagi tunjangan hari raya (THR) yang diberikan kepada siapa saja, entah kecil atau gaek.

Padahal, kata Bang Awee, kembali bersih di Hari Raya Idul Fitri tak harus diasosiasikan dengan barang-barang baru. Apalagi di saat bersamaan, masih ada barang-barang yang bagus dan layak digunakan. Dalam kondisi negara yang sedang susah ini, ada baiknya jika masyarakat membuat prioritas dalam menghabiskan uang.

“Tanpa baju baru, lebaran kurang afdhol, Bang. Apalagi sejak kecil kita sudah diajarkan dengan hal-hal seperti itu,” kata Bang Rambo.

Urusan kebiasaan inilah yang ditentang oleh Bang Awee. Apalagi mengenakan barang-barang baru bukan menjadi budaya, baik dalam budaya Aceh atau dalam budaya Islam. Bahkan dalam Islam, yang diutamakan itu adalah kesederhanaan.

“Apalagi yang dibelanjakan itu kebanyakan barang Cina. Memang ada pedagang yang mendapatkan untung. Tapi untuk terbesar itu dirasakan oleh negara lain,” kata Bang Awee. Mulai dari toples, pakaian, sepatu dan banyak lagi. “Bahkan saat berbelanja di secara online, saham-saham perusahaan itu dikuasai oleh Cina. Jadi, kapan negara kita untung?” kata Bang Awee.

Kalau mau serius, harusnya lebaran saat lebaran, biarkan uang kita mengalir di daerah kita. Uang yang ada dibelikan produk-produk lokal. Walau harganya sedikit lebih mahal, tak masalah.

Komentar

Loading...