Unduh Aplikasi

Berbagi Keseruan di Jeram Krueng Aceh

Berbagi Keseruan di Jeram Krueng Aceh
Anggota komunitas Hutan Wakaf menikmati jeram Krueng Aceh. Foto: Dokumentasi Hutan Wakaf (Yusri Mantong)

AZHAR bergerak bagaikan setrika di atas pakaian. Satu per satu penumpang perahu karet didatangi. Satu pesan penting disampaikan ke seluruh penumpang yang sibuk menyesuaikan posisi duduk.

Hape tolong ditinggal di darat. Jangan ada yang bawa hape kalau mau ikut arung jeram,” kata Azhar dengan nada mengancam kepada peserta arung jeram di Hutan Wakaf, di Desa Data Cut, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, Ahad pekan lalu.

Telepon cerdas adalah salah satu benda yang mengganggu perjalanan mengarungi arus Krueng Aceh. Dua pengendali perahu karet, Putra dan Romi Sahbudin, mengaku kesulitan mengarahkan orang-orang di atas perahu karet karena mereka lebih suka berswafoto ketimbang mengikuti arahan dua instruktur yang kelimpungan itu.

Arung jeram menjadi salah satu kegiatan Komunitas Hutan Wakaf akhir pekan lalu. Pekan itu, peserta yang datang ke Data Cut mencapai 70 orang. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai mahasiswa hingga politikus senior, seperti TAF Haikal. Namun tak semua berkesempatan bermain arung jeram.

Dalam satu perahu karet, maksimal ditumpangi oleh sembilan orang. Perahu ini berlayar lima kilometer. Melintasi Jembatan Jalin menuju Tui Giri, Gampong Data Cut, Jantho. Waktu yang dibutuhkan untuk melintasi alur ini mencapai 50 menit. Mereka menggunakan dua unit perahu karet.

Kegiatan utama di areal Hutan Wakaf ini adalah menamam pohon. Pada kesempatan itu, anggota komunitas bergotong royong menanam sekitar 100 batang tanaman lokal. Seperti bak cukok, suntul dan tanaman lokal lainnya.

“Tak ada pungutan. Kegiatan ini digelar untuk menanami kembali hutan rusak dan mengumpulkan dana untuk didonasikan kepada korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala,” kata Akmal Senja, inisiator Hutan Wakaf bersama Azhar. Dalam kegiatan ini, terkumpul dana sebesar Rp 1,8 juta untuk diserahkan ke Palu dan Donggala.

Mereka yang tak berkesempatan mencoba jeram Krueng Aceh menikmati suasana hutan dan mandi di sungai. “Aku sangat rileks berada di sini. Bersama anak-anak muda,” kata TAF. “Lokasi ini sangat cocok untuk dijadikan lokasi pariwisata. Sebagai contoh, di Jawa Barat, semua sungai dimanfaatkan untuk ekowisata. Ada uang yang bisa dihasilkan dari sungai, bukan dengan aktivitas yang seperti galian C.”

Kegiatan ini tak mematok iuran. Mereka yang memiliki dana lebih dipersilakan membantu. Sedangkan yang tak membawa uang, bisa menyumbangkan tenaga. Seperti Yusri Mantong. Sebagai gantinya, Yusri mewakafkan tenaga untuk memasak. “Kebetulan, makanan olahan saya banyak digemari.”

Sosok lain yang berkesempatan datang pada acara itu adalah Eko Wishnu Abdi selaku juru kunci Hutan Wakaf, Rubama dari Solidaritas Perempuan Aceh, Hendra Asun (Aconk) dan beberapa aktivis lingkungan lain.

Menanami lahan kritis. Foto: Dokumentasi Hutan Wakaf (Yusri Mantong)

Hutan Wakaf sendiri merupakan kegiatan sosial membeli lahan kritis untuk dihijaukan kembali. Saat ini, komunitas telah membeli sekitar tiga hektare lahan kritis dan mulai menanaminya kembali. Kegiatan arung jeram menjadi salah satu favorit saat komunitas ini naik ke Jantho untuk menanam pohon baru. Sebagian besar mereka tinggal di Banda Aceh.

“Menanami kembali Krueng Aceh adalah bentuk tanggung jawab kami sebagai pengguna jasa air. Hutan Wakaf mengimplementasikan skema imbal jasa lingkungan untuk memperbaiki DAS Krueng Aceh. Walau usaha ini kecil, tetapi akan berdampak di suatu hari nanti,” kata Akmal.

Komentar

Loading...