Unduh Aplikasi

Bekas Ketua Kadin Aceh: Organisasi Ini Mulai Ditinggalkan Pengusaha

Bekas Ketua Kadin Aceh: Organisasi Ini Mulai Ditinggalkan Pengusaha
Dahlan Sulaiman.

BANDA ACEH - Bekas Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh, M Dahlan Sulaiman, mengatakan organisasi yang pernah dipimpinnya itu mulai ditinggalkan para pengusaha, semakin dijauhi oleh pengusaha dan asosiasi, juga menjadi tidak populer di mata pemerintah dan masyarakat.

“Pengusaha lebih memilih asosiasi atau gabungan sebagai wadah untuk membela nasibnya. Karena itu wadah asosiasi atau gabungan menjadi dikenal dan populer,” kata Dahlan kepada AJNN, Jumat (14/9). “Kondisi ini juga terjadi di kabupaten dan kota. Karenanya, mari kita sama-sama benahi, mulai dari Kadin di daerah-daerah hingga ke provinsi. Musyawarah harus diselenggarakan oleh panitia yang independen. Lepas dari bayang-bayang rezim kepemimpinan yang sekarang.”

Salah satu program Kadin Aceh yang mendorong terciptanya wiraswasta muda melalui jalur pendidikan formal di sekolah kejuruan adalah membentuk Majelis Pendidikan Kejuruan. Lembaga ini dipimpin oleh Ketua Kadin Aceh. Lembaga ini membantu menyeimbangkan teori yang selama ini diterima para murid dengan praktik di dunia usaha.

Baca: Dahlan Sulaiman: Harus Ada Regenerasi di Kepengurusan Kadin Aceh

Bahkan, kata Dahlan, setiap enam bulan sekali, secara bergantian, mereka mengirimkan siswa kelas dua dan tiga sebanyak 60 hingga 100 orang untuk berpraktik ke luar negeri. Biayanya, kata Dahlan, ditanggung oleh Kadin Aceh Negeri dengan biaya ditanggung KADIN Aceh. Buah dari program ini, kata dia, murid-murid tersebut mendapatkan pengalaman dan keterampilan saat kembali ke Tahan Air.

Mereka juga mendapatkan uang dalam jumlah yang relatif besar, sangu dari perusahaan tempat mereka melaksanakan praktik bisnis tersebut. Program ini, kata Dahlan, dibentuknya bersama Ketua BKPMD dulu TA Hamid (Allahuyarham). Sayang, selama kepengurusan Firmandes di Kadin Aceh, kegiatan ini tak lagi dijalankan.

“Demikian juga dengan program kerja sama IMT-GT yang cukup terkenal dan bergengsi. Setelah pertemuan terakhir pada 2003, tak terdengar lagi Kadin Aceh menggelar pertemuan ini hingga IMT-GT Indonesia melakukan rapat koordinasi di Aceh. Dan yang berperan pada pertemuan itu bukan Kadin. Yang berperan adalah Aspindo,” kata Dahlan.

Karena itu, Dahlan mendorong agar organisasi ini benar-benar kembali ke khittah keberadaanya sebagai organisasi yang menaungi seluruh pengusaha. Dia juga berharap terjadi suksesi kepemimpinan di Kadin Aceh yang dilakukan melalui musyawarah, sesuai dengan AD/ART Kadin, “tranparan dan terbuka.” Dahlan juga berharap pemerintah, selaku pembina dan pengendali regulasi serta fasilitator dunia usaha, ikut mengawasi proses suksesi ini.

Dahlan juga menilai seharusnya ketua serta pengurus Kadin Aceh di masa mendatang adalah pengusaha murni yang berasal dari sektor dan sub sektor usaha. Orang-orang yang aktif menjalankan atau mengendalikan usahanya. terlepas dari kegiatan politik praktis, mapan dan dikenal jujur dan bersih dalam berusaha.

“Pemimpin atau pengurus Asosiasi, himpunan dan gabungan yang selama ini aktif, cakap, dan berpengalaman mengurus organisasinya patut diberi kesempatan dan peluang menjadi pemimpin Kadin Aceh,” kata Dahlan.

Komentar

Loading...