Bantuan Rumah Dhuafa dari Baitul Mal Dinilai Tak Tepat Sasaran

Bantuan Rumah Dhuafa dari Baitul Mal Dinilai Tak Tepat Sasaran
Salah satu rumah bantuan yang dibangun Baitul Mal Aceh Jaya

ACEH JAYA - Rumah layak huni yang bersumber dari dana bantuan infaq Baitul Mal Kabupaten Aceh Jaya dinilai tidak tepat sasaran, pasalnya di Gampong Tuwie Kayee Kecamatan Panga Aceh Jaya ada dua oknum aparatur gampong setempat mendapatkan rumah bantuan tersebut.

Warga setempat yang tak mau namanya ditulis mengatakan seharusnya ada yang lebih berhak mendapatkan bantuan rumah layak huni di gampong tersebut.

“Kami selaku masyarakat sangat menyayangkan atas bantuan yang tidak tepat sasaran ini, seharusnya bantuan rumah tersebut diberikan untuk masyarakat yang benar-benar kurang mampu, karena kalau ditanyakan lebih berhak sangat banyak yang lebih berhak mendapatkan," ujar warga Gampong Tuwie Kayee.

Menurutnya, aparatur gampong tersebut tidak layak mendapatkan rumah bantuan itu karena masih tergolong muda dan masih mampu untuk mencari rezeki.

Sementara itu, Gueuchik Desa Tuwie Kayee, Faidin Zakaria saat dihubungi AJNN, Kamis, (12/10) membenarkan dua warganya atas nama Alwi Rasyid (48) dan Sofyan syamaun (56) mendapatkan rumah bantuan dari Baitul Mal.

Namun menurutnya, proposal bantuan rumah itu diajukan atas nama istri Alwi dan Sofyan pada awal tahun 2016 lalu.

”Pengajuan pertama dulu atas nama Basyariah ibu rumah tangga istri dari Alwi Rasyid memang benar dia kadus, dan satu lagi atas nama Nurfizah kita naikkan atas nama istri mereka berdua bukan atas nama mereka,” ujarnya.

Keuchik juga membantah jika keduanya dituding tidak berhak mendapat rumah bantuan. Menurutnya, mereka memang layak mendapatkan karena juga bukan orang yang mampu dan keduanya tidak ada tempat tinggal.

Sementara itu, Camat Panga, Jauhari mengaku belum mendapat laporan terkait adanya oknum aparatur desa yang mendapatkan bantuan rumah.

“Belum ada laporan baik yang tersurat maupun yang tersurat,” tuturnya singkat

Staf Baitul Mal Kabupaten Aceh Jaya, Aidil Satria menyebutkan, pihaknya memberikan bantuan berdasarkan proposal yang masuk ke kantor dan setelah itu melakukan verifikasi ke lapangan untuk mengecek kebenaran serta menemui langsung dengan pihak kepala desa dan masyarakat.

"Saat kami cek tidak ada yang menyampaikan kepada kami bahwa yang bersangkutan adalah aparatur gampong karena saat pengajuan proposal tidak disebutkan profesinya," katanya.

"Baru saat ini kami tahu bahwa mereka aparatur gampong. Kalau memang itu aparatur gampong, kita konsultasi kembali dengan kepala meskipun pembangunan rumahnya hampir siap," katanya.

 

data-ad-format="auto">

Komentar

Loading...