Unduh Aplikasi

TERKAIT GUGATAN IZIN PT EMM

Banding Ditolak, WALHI Aceh Lakukan Kasasi

Banding Ditolak, WALHI Aceh Lakukan Kasasi
Ilustrasi. Foto: Net

BANDA ACEH - Upaya banding yang diajukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama masyarakat Beutong Ateuh Banggalang untuk pembatalan izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi PT Emas Mineral Murni (PT EMM) ditolak majelis hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (TUN) Jakarta.

Keputusan tersebut tidak diterima WALHI Aceh, mereka akan melakukan upaya hukum selanjutnya, yakni menempuh jalur kasasi ke Mahkamah Agung.

Direktur WAlHI Aceh, M Nur mengatakan, majelis hakim tidak berani memeriksa kasus izin PT EMM secara substansi. Dimana didalamnya terdapat banyak masalah, baik secara proses perizinan, melangkahi kewenangan Aceh, serta dampak negatif terhadap ekologi, HAM, dan sosial budaya.

Baca: Walhi Ajukan Banding Terkait Putusan PT EMM

Kemudian, petisi masyarakat, surat dukungan tolak tambang, hasil paripurna DPR Aceh, dan aksi massa di berbagai daerah tidak menjadi pertimbangan majelis hakim untuk memeriksa kasus ini secara utuh.

Putusan banding ini telah melukai keadilan terhadap ekologi dan masyarakat Aceh. Dalam putusan tersebut memberikan gambaran bahwa pengadilan sangat sulit memberikan rasa keadilan kepada masyarakat menyangkut menjaga lingkungan hidup dan dalam menjaga sumber daya alam.

"Majelis hakim banding masih mempersoalkan okjek TUN, sebenarnya objek TUN siapa yang menerbitkan keputusan maka dialah subjek hukumnya," kata M Nur dalam keterangannya, Rabu (11/9).

M Nur menyampaikan, pakar hukum dalam sidang eksaminasi hasil putusan tingkat pertama ini berpendapat bahwa objek gugatan yang diajukan WALHI bersama masyarakat adalah benar sebagai objek TUN.

M Nur menilai, hakim banding sengaja mencari cara mengalahkan gugatan masyarakat dengan pertimbangan yang jauh dari ketentuan, teori maupun yurisprudensi yang ada. Apalagi, pengadilan TUN berbeda dengan Pengadilan Negeri khususnya pemenuhan ketentuan Plurium Litis Consorsium, atau kurang para pihak, yang harus menarik pihak lain untuk masuk ke dalam perkara tidak menjadi kewenangan penggugat, tergugat maupun tergugat intervensi, melainkan kewenangan hakim.

Selain itu, lanjut M Nur, dalam putusan banding majelis hakim juga mengeluarkan TR Mukmin sebagai penggugat IV perwakilan dari masyarakat Beutong Ateuh Banggalang.

Pertimbangan hukum disebutkan tergugat II intervensi (PT EMM) dalam kontra memori bandingnya melampirkan bukti tambahan berupa surat pernyataan dari TR Mukim yang pada pokoknya mengundurkan diri sebagai penggugat dengan alasan ingin fokus mengurusi orangtua.

Menurut M Nur, ada keanehan dalam hal pengunduran diri TR Mukmin, pertama dia tahu upaya banding yang akan dilakukan bersama WALHI, kedua surat pengunduran diri dibuat pada tanggal 25 April 2019 atau dua hari setelah WALHI bersama warga mohonkan banding. Seharusnya TR Mukmin menyerahkan surat pengunduran diri melalui WALHI Aceh selaku penggugat dan kuasa hukum, bukan melalui PT EMM yang jelas-jelas merupakan pihak lawan dalam perkara ini.

"WALHI sendiri baru mengetahui perihal pengunduran diri TR Mukmin pada saat keluar putusan banding," tutur M Nur.

Terkait hal ini, WALHI Aceh menduga ada rekayasa pihak tertentu terkait pengunduran diri TR Mukmin selaku penggugat, juga diduga bahwa yang bersangkutan mendapatkan intervensi dari pihak lawan.

Terlebih selama advokasi ini, TR Mukmin berada di garis terdepan tolak tambang PT EMM dan juga ikut tandatangan petisi tolak tambang. Hasil konfirmasi WALHI Aceh, beliau mengakui kerap mendapatkan sms ancaman dari orang tak dikenal," sebutnya.

"WALHI Aceh bersama masyarakat akan menelusuri informasi ini sehingga tidak menceredai perjuangan rakyat dalam tolak tambang PT EMM," tandas M Nur.

M Nur menyatakan, pihaknya belum menerima putusan tersebut, WALHI bersama masyarakat Beutong Ateuh Banggalang akan terus melakukan upaya hukum kasasi ke Mahmakah Agung.

"Semoga Mahkamah Agung dalam putusannya nanti memihak kepada masyarakat menyelamatkan tanah aulia di Beutong Ateuh Banggalang," tutupnya.

Komentar

Loading...