Unduh Aplikasi

Banda Aceh Coffee Festival 2018; Tanpa Esensi Tanpa Sensasi

Banda Aceh Coffee Festival 2018; Tanpa Esensi Tanpa Sensasi
Festival Kopi Banda Aceh 2018. Foto: Fauzul Husni

Oleh: Wan Windi Lestari

Lagi –lagi perhelatan Banda Aceh Coffee Festival menuai semrawut di ujung. Pelaksanaan event unggulan Kota Banda Aceh ini sejak beberapa tahun kebelakang memang sepi apresiasi. Euforia publik yang biasanya bingar di sosial media pun kini surut. Ulasan positif yang dulunya banjir di media lokal, nasional dan internasional sekarang kurang, jika pun ada, medianya itu-itu saja, isu dan angle yang sama khas orkestrasi ala public relation.

Satu persatu pihak yang terlibat mengisi acara mulai mengeluh minimnya ekspektasi mereka yang terpenuhi saat event berlangsung. Meski begitu, salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota Banda Aceh sempat menobatkan pelaksanaan Banda Aceh Coffee Festival 2018 sebagai penyelenggaraan tersukses sepanjang sejarah.

Klaim ini tentunya disambut bangga dan diamini oleh pihak penyelenggara, wajar saja, tapi indikatornya apa?. Sebagai Creative Director dari EXO Production, Event Organizer yang bersama-sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, merumuskan serta meluncurkan Banda Aceh Coffee Festival untuk pertama kalinya di tahun 2011, saya tidak merasa klaim tersebut relevan.

Di tahun pertama penyelenggaraannya saja, Banda Aceh Coffee Festival sudah diikuti 30 peserta yang terdiri dari pengusaha kafe, produsen skala domestik dan eksportir, koperasi kopi dan lembaga internasional yang berfokus pada komoditas kopi. Peserta 60 persen didatangkan dari Gayo sebagai pusat produsen kopi terbesar di Aceh.

Jumlah peserta terus ditingkatkan di tahun-tahun berikutnya. Jadi mengklaim eksibisi kopi yang hanya diikuti oleh 25 warung kopi sebagai rekam terbaik sepanjang sejarah dasarnya apa?. Banda Aceh Coffee Festival adalah salah satu agenda Visit Banda Aceh Year 2011 yang terus bertahan hingga delapan seri.

Dalam perumusannya event ini memang dipersiapkan untuk bisa menjadi event tahunan dengan ruang konten yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Empat prinsip dasar dari rumusan penyelenggaraan Banda Aceh Coffee Festival adalah Eksibisi, Edukasi, Selebrasi dan Kompetisi.

Ke-empat prinsip ini akan terus relevan selama penyelenggara mampu mempertemukan perkembangan industri kopi dengan selera pasar dan kreatifitas dalam menyusun konten acara. Ketika konsep Banda Aceh Coffee Festival 2018 yang menyuguhkan minum bersama 1001 gelas kopi, music competition, coffee exhibition, coffee talk, coffee stand, barista open, dan live performances didapuk sebagai konsep terbaik, jelas harus dapat mengungguli konten acara yang sebelumnya sudah pernah ditampilkan.

Sayangnya, semua konten yang ditawarkan di Banda Aceh Coffee Festival 2018 ini bukanlah hal baru, skalanya pun biasa saja. Banda Aceh Coffee Festival dalam perjalanannya telah menghadirkan para ahli kopi terbaik. Diantaranya para Q & R-Grader terbaik seperti Gayo Cupper Team, Adi W Taroepratjeka dan Mia Laksmi.

Barista yang dikenali memiliki skill terbaik seperti Irvan Helmi dari Anomali Coffee pelopor specialty coffee micro roaster dengan kopi asli Indonesia, hingga Doddy Samsura, Barista dengan predikat juara bergengsi dari ajang internasional seperti Asia Barista Championship hingga World Barista Championship. Bahkan Toni Wahid, founder blog kopi terbesar Indonesia, Cikopi.com juga pernah menjadi narasumber dalam Coffee Photography yang menjadi konten Banda Aceh Coffee Festival Tahun 2012.

Bicara konten hiburan, di seri-seri pertamanya saja Banda Aceh Coffee Festival telah tercatat menghadirkan entertainer kelas nasional seperti Komika Pandji Pragiwaksono, Grup Musik RAN, Abdul and The Coffee Theory hingga Host Benue Buloe, menampilkan karyanya live bukan sekedar tribute to. Silahkan nilai sendiri konten acara mana yang lebih berbobot.

Pernyataan Mardani Ali Sera, dalam kunjungan ke Banda Aceh Coffee Festival 2018 beberapa waktu lalu tentang pentingnya daerah lain di Indonesia untuk meniru kegiatan sejenis sebagai sebuah langkah kreatif Wali Kota Banda Aceh mempromosikan kopi, saya nilai terlambat untuk dikutip.

Banda Aceh Coffee Festival pertama kali digelar pada Bulan November Tahun 2011, setahun lebih awal dari Festival Kopi Indonesia pertama yang dilaksanakan di Ubud Tahun 2012, setelah sebelumnya membuat pre-show di Bandung pada Bulan Desember tahun sebelumnya. Medan Coffee Festival, Malang Coffee Festival adalah seri-seri lain Festival Kopi yang lahir setelahnya. Banda Aceh Coffee Festival sudah sukses menjadi pionir jauh sebelum Bapak Wali Kota Aminullah Usman, S.E., Ak., M.M. menjabat.

Bila melihat dari sudut pandang profesional, Banda Aceh Coffee Festival 2018 jelas tidak gagal. EO pelaksana cukup menunjukkan performa baik dalam mengeksekusi event yang proses lelangnya saja dua kali gagal dan baru selesai kurang dari sebulan menuju tanggal pelaksanaan acara.

Dengan pagu anggaran Rp 500 Juta dipotong pajak, EO cukup all out. Penyelenggaraan event adalah tentang membangun dan memenuhi ekspektasi, ekspektasi publik, klien, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.

Klasik, tapi kita memang tidak bisa menyenangkan semua orang, jadi dalam penyelenggaraan acara, komplain adalah hal yang biasa. Komplain ini seharusnya menjadi signal untuk melakukan introspeksi terhadap keseluruhan proses pelaksanaan, bukan malah mencari-cari pembenaran dan melaporkan pihak yang mengajukan komplain ke jalur hukum.

Tidak lucu rasanya jika kelak ada anekdot “Ikut F estival Kopi, Berujung Masuk Penjara”. Lagipula, ada banyak sekali alasan untuk mencermati keseluruhan proses penyelenggaraan Banda Aceh Coffee Festival 2018.

Pengutipan biaya cetak backdrop stand sebesar Rp 100 ribu itu hanya hal kecil saja. Kami dari CV. EXO Production mengikuti proses lelang pekerjaan ini. Dalam sejarah Festival Kopi Banda Aceh, rumusan Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) tahun ini cukup kompleks.

Calon penyedia diminta mempekerjakan seorang konseptor dengan latar belakang pendidikan S1 Kesenian, justru bukan seorang yang punya rekam jejak dalam banyak kegiatan yang berhubungan dengan kopi. Belum lagi syarat untuk melampirkan dukungan MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk mencatatkan rekor “Minum Kopi Khop Terbanyak (1001 gelas)” yang jelas blunder sejak awal.

Perumus KAK tampaknya tidak melakukan riset sebelum menyusun KAK. Sudah dalam aturan MURI bahwa rekor yang bersifat spesifik tidak bisa dicatatkan. Dalam kategori rekor “Minum Kopi Khop” maka yang dianggap rekor adalah proses “minum kopi”-nya, pihak MURI mensyaratkan minimal 3400 peserta untuk tercatat sebagai rekoris, sementara dalam RAB Festival Kopi fasilitas pencatatan rekor hanya tersedia untuk 1100 peserta.

Ketika kami mengkonfirmasi hal ini kepada panitia lelang lewat fasilitas e-proc LPSE dalam proses anwijing, panitia lelang menjawab “Dari Pengguna Anggaran Pencatatan Rekor MURI pada Festival Kopi dilakukan melalui pencatatan minum kopi serentak (Kopi Khop) sama dengan minum kopi gelas terbalik dengan sedotan bukan pemecahan rekor. Dan ini belum tercatat pada Muri”.

Ketika kami menghubungi pihak MURI terkait pernyataan ini, MURI menyatakan bahwa panitia yang bersangkutan belum mengajukan permohonan apapun sebagai rekoris, dan persyaratan jumlah peserta sebanyak lebih dari 3400 untuk kategori minum kopi khop adalah pernyataan resmi MURI.

Dokumentasi komunikasi ini kami simpan dalam bentuk email. Meski demikian, kami berhasil melampirkan surat persetujuan dari MURI sebagai rekoris untuk kategori “Minum Kopi Khop Terbanyak” dalam dokumen penawaran.

Permohonan diajukan atas nama direktur kami CV. EXO Production, Agus Muhaddar. Surat persetujuan dikeluarkan MURI tanggal 5 November 2018, dikirimkan via email resmi Museum Rekor Indonesia.

Apa lacur, lelang yang kami ikuti dinyatakan gagal karena peserta yang memasukkan penawaran dianggap tidak memenuhi kualifikasi. Tidak dicantumkan hasil evaluasi kualifikasi dalam pengumuman tersebut.

Kami mencoba menyambagangi Pokja Lelang Banda Aceh Coffee Festival 2018 di kantornya, untuk mengetahui kekurangan pada dokumen penawaran kami. Karena sejumlah prosedural kami tidak dapat bertemu panitia lelang.

Setelah lelang dinyatakan gagal, dalam lelang ke-2 prasyarat surat dukungan pencatatan rekor MURI untuk kategori “Minum Kopi Khop Terbanyak” masih ada. Sekarang, setelah gagal menghadirkan tim MURI untuk pencatatan rekor, penyelenggara baru mengakui bahwa MURI mensyaratkan penambahan jumlah peserta untuk pencatatan rekor, persis narasi pertanyaan kami saat proses anwijing, ajaib.

Untuk event yang berusia delapan tahun, Banda Aceh Coffee Festival 2018 belum mengalami transformasi yang luar biasa. Skala yang begitu-begitu saja, anggaran yang segitu-segitu saja, konten acara yang itu-itu saja, perencanaan dan pelaksanaan yang belum juga mutakhir layaknya event tahunan yang sudah mapan.

Komitmen menjadikan Festival Kopi sebagai event icon Kota Banda Aceh tampaknya tidak didukung dengan kompetensi yang mumpuni. Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh sebagai leading sector telah gagal meneruskan citra positif Festival Kopi pertama di Indonesia yang telah dibangunnya delapan tahun yang lalu.

Selama ini, segala kekurangan dalam pelaksanaan festival kopi selalu menjadi beban EO pelaksana. EO terus-terusan menjadi kambing hitam ketika ekspektasi publik tidak terpenuhi. Padahal adalah perumusan KAK yang tidak melibatkan tim ahli yang kompeten, proses tender yang selalu mepet, waktu persiapan yang sempit, tempo publikasi yang singkatlah yang menjadi formulasi sumber kekacauan pelaksanaan festival kopi, dan idealnya EO pemenang tender tidak terlibat dalam satupun proses tersebut.

Jelas ini inkompetensi Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh yang sudah berlangsung bertahun-tahun, dan ini harus berhenti. Festival Kopi sampai kapanpun masih akan relevan menjadi icon event kota yang budaya ngopinya telah mengakar seperti Banda Aceh.

Maka, Festival Kopi layak diselamatkan. Saatnya Banda Aceh Coffee Festival dikembalikan kepada publik, dorong event tahunan ini menjadi event yang mandiri. Banyak Komunitas Kopi nirlaba yang bisa ditunjuk sebagai pemegang hak pelaksanaan, atau bentuk saja foundation atas nama Banda Aceh Coffee Festival, Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh dapat tetap berada dalam struktur organisasi bersama kelompok kerja lain yang kompeten.

Tidak ada lagi proses tender yang penuh konspirasi. Perencanaan dan persiapan event bisa dilakukan lebih awal untuk hasil yang lebih baik. Banda Aceh Coffee Festival, Cita Rasa Aceh untuk Dunia, mari wujudkan itu.

Penulis adalah Praktisi Event Organizer, Co-Founder Banda Aceh Coffee Festival, Creative Director CV Exo Production, dan General Manager OZ Radio Banda Aceh.

Komentar

Loading...