Unduh Aplikasi

Banda Aceh Bukan Kota. Cuma Kampung Besar

Banda Aceh Bukan Kota. Cuma Kampung Besar
ilustrasi: Achilles

BANYAK persoalan yang kini mendera Banda Aceh. Kota di ujung Sumatera ini tak kunjung menjadi daerah yang lebih baik meski pemimpinnya terus berganti. Alih-alih menjadi kota yang benar-benar nyaman untuk dihuni dan dikunjungi, Banda Aceh kini lebih mirip kota tanpa nakhoda.

Hal ini terlihat jelas hampir seluruh sudutnya. Anggota Komisi D DPRK Banda Aceh, Isnaini Husda, misalnya, menyebut jalan yang mulai rusak di sejumlah gampong. Lubang-lubang dibiarkan menganga. Urusan air bersih juga tak kunjung beres. Belum lagi drainase yang hanya menjadi kolam dan sarang nyamuk. Tidak ketinggalan juga urusan yang satu ini: sampah.

Di Banda Aceh, hampir tak ada trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki. Di Jalan Daud Beureuh, misalnya, trotoar yang besar dilapisi keramik penuh dengan pedagang kaki lima. Mereka tak menyisakan ruang untuk pejalan kaki. Sementara trotoar lain tak kunjung bangun. Padahal, untuk mendukung moda transportasi massal, Banda Aceh perlu trotoar sebagai sarana pendukung.

Wali kotanya pun seperti “gagap”. Tak tahu harus berbuat apa. Alhasil, para pejabatnya pun mulai loyo dan tak punya arah. Masyarakat yang bingung semakin sulit untuk berpikir. Jangankan untuk mengembangkan usaha, mempertahankan usaha yang ada pun kelimpungan.

Pembangunan hanya diarahkan untuk mengejar keuntungan proyek, tanpa visi tanpa misi. Banyak bangunan besar dan mewah, yang dibangun dengan uang miliaran, hanya untuk mengejar keuntungan proyek. Padahal, uang besar itu dapat dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Alhasil, sektor swasta yang berkembang hanyalah “menjadi kontraktor”. Anak-anak muda terlalu malas--atau takut--untuk mengembangkan usaha karena ekonomi daerah tak mendukung. Tak banyak uang beredar. Uang yang ada lebih banyak dihabiskan di luar Banda Aceh. Sementara perbankan hanya sibuk mengejar kredit konsumtif dan enggan membiayai sektor kreatif karena dianggap tak punya kepastian.

Banda Aceh harusnya belajar dari Bandung, Makassar atau Banyuwangi. Kota-kota ini terus mengeksplorasi diri dan memberikan ruang besar untuk memberdayakan masyarakatnya dengan kreativitas. Pemerintah, terutama pemimpin kota, harusnya mampu mendorong kebijakan publik yang mendukung ke arah pengembangan kreativitas. Dan ini sesuatu yang mahal.

Pemimpin kota seharusnya memahami bahwa regulasi saja tak cukup untuk membangun Banda Aceh. Banda Aceh perlu kolaborasi dengan banyak pihak, perencanaan matang, dan keyakinan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dan ini hanya bisa dipimpin oleh sosok yang mengerti kebutuhan daerah untuk maju dan berkembang. Kalau tidak, kelas Banda Aceh tak akan pernah meningkat menjadi kota besar. Banda Aceh itu hanya kampung besar.

Radio Baiturrahman
Ibadah Haji 1439H

Komentar

Loading...