Asal Tak Kuncup sebelum Mekar

·
Asal Tak Kuncup sebelum Mekar
GUBERNUR Aceh Zaini Abdullah baru saja menerima draf pemekaran Aceh Raya sebagai kabupaten baru. Kelak jika ini disetujui, Aceh Raya akan berdiri sendiri dan berpisah dari induknya, Aceh Besar.

Sama seperti usulan pemekaran di daerah-daerah lain, alasan yang dikemukakan oleh pengusung pemekaran adalah keinginan untuk menyejahterakan masyarakat. Bahkan tak ada yang berani menyebutkan tentang hasrat kekuasaan.

Di Aceh Besar bagian selatan, keberadaan pusat pemerintahan baru di daerah itu diprediksi mempermudah proses pembangunan. Karena selama ini, masyarakat di daerah itu kerap kesulitan dalam mengurusi sejumlah urusan administratif

Namun urusan administratif saja tidak lah cukup untuk menyejahterakan masyarakat. Masyarakat sebenarnya memerlukan sentuhan kearifan. Masyarakat di Kecamatan Lhoong, Leupung, Lhoknga, Peukan Bada, Pulo Aceh, Darul Imarah dan Darul Kamal memerlukan sebuah kebijakan yang mampu menjadikan mereka tuan di negeri sendiri, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan kepulauan.

Bukan rahasia bila selama ini masyarakat di kepulauan; Pulo Aceh, kerap dianaktirikan. Di sekolah, anak-anak murid sulit mengenali guru mereka karena kebanyakan guru-guru itu berkantor di Ulee Lheue. Kebanyakan guru hingga kepala sekolah hadir di sekolah hanya untuk mengambil gaji.

Demikian juga urusan listrik dan layanan kesehatan. Masyarakat kepulauan ini seperti dipinggirkan. Mereka dianggap sebagai penduduk kelas 11 di negara ini. Padahal, hal-hal mendasar ini wajib dipenuhi negara (baca: pemerintah).

Pemerintah Aceh, melalui Abu Doto--sapaan Zaini Abdullah--harus meminta jaminan dari para pengusung daerah baru ini untuk mampu meletakkan pondasi dan arah pembangunan. Jangan pula Aceh Raya lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang mengembangkan diri, setelah mekar.

Komentar

Loading...