Unduh Aplikasi

Asa Cut Aji Nisah Kandas di Bank Aceh Syariah

Asa Cut Aji Nisah Kandas di Bank Aceh Syariah
Foto: Ist

BANDA ACEH - Ada yang berbeda dari rutinitas Cut Aji Nisah pagi itu. Dari Keudebing, Aceh Besar, Rabu Pekan lalu, perempuan 41 tahun, ini mendadak ingin mencoba peruntungan baru; meminjam modal usaha dari Bank Aceh Syariah (BAS) di Banda Aceh.

Cut, begitu dia biasa dipanggil, termotivasi imbauan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah yang ingin menghidupkan “mesin” pelaku industri kecil menengah (IKM) di antero Aceh. “Tapi, saat ini saya terkendala modal,” kata Cut.

Alasan itu yang kemudian membakar semangat Cut untuk berani mendatangi Kantor Pusat Bank Aceh Syariah di jalan Dr Mr Muhammad Hasan, Batoh, Banda Aceh. Tapi, setiba ia di kantor pusat bank pelat merah itu, Cut kemudian diarahkan ke kantor cabang, jaraknya tidak begitu jauh, masih di kawasan Batoh Juga.

Cut pun bergegas memacu sepeda motornya menuju kantor Cabang Bank Aceh Syariah. Sampai di sini, Cut melapor ke petugas dan menyampaikan tujuannya datang ke BAS. Oleh petugas, Cut diarahkan bertemu salah satu pegawai bank bernama Imamil.

Cut memperlihatkan produk IKM miliknya. Foto: Ist

Cut lantas menyampaikan maksud kedatangannya ke BAS Cabang Banda Aceh itu. Dia juga mengenalkan diri sebagai pelaku IKM yang hendak meminjam modal usaha. "Ibu tinggal di mana dan usahanya apa?" tanya Imamil seperti diceritakan kembali oleh Cut, Rabu (20/3).

Percakapan itu tidak berlangsung lama. Imamil merespon positif hasrat Cut untuk mendapatkan modal usaha. Lalu, tambah Cut, Imamil tanya perlu dana berapa? “Saya katakan tidak banyak, karena kalau banyak nanti gak sanggup kembalikan. Saya juga tidak punya agunan,” kata Cut.

Saat itu, kenang Cut, Imamil malah bilang, “jangan ngomong agunan dulu.” Bahkan, saat itu juga Imamil memerintahkan anggotanya untuk segera cek ke lapangan melihat usaha IKM milik Cut. Dengan hati berbunga, Cut pun tancap gas kembali ke Keudebing.

Di perjalanan, hati Cut gembira tak karuan. Dalam angannya, usaha kerajinan rotan yang sudah enam tahun digeluti bakal maju satu langkah lagi. Dia pun tak henti-henti mengucap syukur. Tiba di rumah, Cut duduk rehat di teras, sembari memandangi usahanya.

Sore hari sekitar pukul 15.30 WIB, Cut menghubungi karyawan bank yang mau melakukan survei ke lapangan. Setelah terkoneksi, tak berapa lama kemudian, petugas BAS pun tiba di tempat usaha Cut. Setelah tuntas memotret tempat usaha perempuan asal Simeulue ini, petugas itu bertanya, "berapa ibu butuh modal? Dan apa anggunannya?"

Mendengar kata agunan, hati Cut seketika mengerut. Dia balik tanya, "kalau yang gak pakai agunan ada? "

"Zaman sekarang mana ada buk gak pake agunan. Yang Rp 5 juta saja pake agunan," jawab petugas bank santai.

Mendengar jawaban itu, Cut termangu sejenak. Ia hampir tak kuasa membendung tumpahan rasa kecewanya. "Kalau begitu…nanti, ya, ibu bilang dulu sama suami ibu, nanti ibu kasih kabar," jawab Cut sekena hati karena ia memang tak memiliki agunan.

Klik, perbincangan soal bantuan modal usaha itu pun usai dan ditutup tanpa keputusan: terganjal agunan.

Sekembali petugas survey Bank Aceh Syariah, perasaan Cut berkecamuk dan sedikit kacau. Dia pasrah dan diam seribu basa. "Kadang, memang nasib saya begini. Ya sudahlah. Paling hanya bisa meneteskan air mata. Untung saya masih merasa kuat," ungkap Cut dengan penuh haru.

Produk-produk IKM milik Cut. Foto: Ist

Sebenarnya ibu mau pinjam berapa? “Paling saya butuh di bawah Rp 10 juta, yang penting tidak pakai agunan. Hidup kami pas-pasan, bisa makan dan sekolah anak saja sudah alhamdulillah,” kata Cut kepada media ini.

Keseharian perempuan ini berjualan barang kerajinan berbahan rotan seperti keranjang, tampah, tudung saji, dan lain-lain. Di tempat ini, dia pernah membuka usaha air isi ulang, tapi bangkrut. Diapun memutuskan beralih ke usaha kerajinan rotan.

Untuk memenuhi bahan baku rotan, Cut membeli dari orang-orang di kampungnya. "Langganannya saya dari Simpang Rimah, diantar tiap malam. Saya harus sedia duit (uang) barang seratus atau dua ratus ribu per malam. Tiap malam diantar kecuali hari Jum'at."

Di tempat usahanya, barang paling laku yaitu tudung saji seharga Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, tempat tisu sebagian dijual sesuai permintaan pelanggan seharga Rp150 ribu, tampah sekitar Rp50 ribu sesuai ukuran. “Jika setiap hari laku, berjualan kerajinan ini sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Cut mengiba.

Elegi Cut Aji Nisah untuk mendapatkan modal usaha bukan cerita baru. Padahal, di era industri 4.0 ini, agunan bukan lagi perkara “keramat” bagi pihak perbankan. Apalagi, di dunia maya, fintech menawarkan pinjaman tanpa agunan. Cukup mendownload aplikasi, melampirkan KTP, pinjaman cair.

Tapi, mirisnya, mimpi Cut Aji Nisah ingin modal usaha di bawah Rp10 juta, justru pupus di “rimba” kebijakan “primitif” Bank Pembangunan Daerah Aceh yang kini telah berjubah Syariah.

Apakah sebaiknya Cut kita arahkan ke pinjaman online fintech? Ah, itu kan riba, bukan syariah, layaknya Bank Aceh Syariah, yang sesungguhnya belum berperilaku syariah!

Komentar

Loading...