Unduh Aplikasi

Anti Penjajahan atas Negeri Islam, Senjata Terhebat Sultan Ali Mughayat Syah

Anti Penjajahan atas Negeri Islam, Senjata Terhebat Sultan Ali Mughayat Syah
Ilustrasi. Foto: Net

Oleh: Ambo Asse Ajis

Situasi ujung Sumatera bagian barat di abad ke-15 Masehi, berada dalam bayang-bayang cengkraman Kolonial Portugis. Bangsa kolonial ini berhasil menancapkan pengaruh kekuasaannya di Kerajaan Daya, Kerajaan Pidie dan kerajaan Samudera Pasai dengan cara menakuti. Mereka menggelar kekuataan angkatan bersenjatanya dalam bentuk arak-arakan (rombongan) kapal perang yang baru saja datang dari bentengnya di Goa (India), menelusuri perairan Selat Malaka, tepat di depan pusat kerajaan Daya, Pedir dan Samudera Pasai .

Pada masa itu, masing-masing kerajaan baik itu Kerajaan Daya, Pedir dan Samudera Pasai, dipandang tidak mampu mengimbangin kekuataan militer Portugis sehingga politik kompromi dengan bersedia menerima kerjasama perdagangan sekaligus mempererat hubungan antar keduanya adalah pilihan terbaik untuk bertahan hidup.

Tetapi, Portugis tidak hanya mengingingkan persahabatan. Bangsa ini menginginkan kedaulatan (monopoli) dalam membeli hasil bumi di Kerajaan Daya, Pedir dan Samudera Pasai. Bukan hanya itu, mereka juga menghendaki diberikan izin mendirikan benteng (loji) sebagai tempat beraktivitas sekaligus penanda kedaulatan mereka diterima dan diakui.

Maka berdirilah benteng  Portugis di Kerajaan Pedir, di duga berada di Kuta Asan, bekas kota Portugis (ada juga informasi di Pante Radja yang tidak berapa djauh dengan Kuala Andjong diatas satu bukit, ada terdapat bekas satu kota atau benteng (Zainuddin, 1961:87). Demikian juga di Kerajaan Samudera Pasai, berdiri benteng Portugis di Kuala Krueng Pasee sisi bagian kanan Kerajaan Samudera Pasai.

Mudahnya bangsa Portugis mendapatkan keistimewaan pada awal kedatangannya disebabkan 2 (dua) hal, pertama,  adanya harga-harga baru tanamana lada yang lebih tinggi. Semula, harga lada sangat dikendalikan oleh pedagang Tiongkok (Cina) tetapi karena harga Portugis lebih tinggi sehingga memicu kenaikan harga (inflasi) yang menguntungkan rakyat dan Kerajaan  Daya, Pedir dan Samudera Pasai. Kedua, metode diplomasi militer yang dilakukan Portugis dengan show power armada lautnya serta kelengkapan militernya yang dipandang sanggup mengalahkan kerajaan-kerajaan lokal, menjadi alat barter keamanan saat itu. Daripada berkonfrontasi dengan portugis yang berhasil mengalahkan banyak kerajaan di dunia, pilihan membuka peluang kerjasama yang dipandang menguntukngkan kedua pihak ketika itu. Ini pilihan cara menjaga stabilitas kerajaan-kerajaan lokal.

Faktanya, kolonial Portugis menghendaki keabadian dalam memonopoli lada di Kerajaan Daya, Kerajaan pedir dan Kerajaan Samudera Pasai. Nafsu atas keuntungan yang melimpah ruah dari lada mendorong mereka memilih kepastian monopoli. Dan berbagai ikatan kuat antara Portugis dengan kerajaan lokal terus di bangun sedemikian rupa.

Tetapi sayangnya, budaya Portugis berbeda dengan budaya negeri-negeri Islam. Semakin hari, tingkahlaku mereka bertentangan dengan norma-norma keyakinan masyarakat dan semakin menyebabkan ketidakpuasan serta terus menimbulkan pertikaian di dalam masyarakat.

Sebagai contoh, aturan pendirian loji (benteng /gudang dagang) tidak dipersenjatai, justru dipersenjatai oleh pasukan Portugis; perilaku prajurit Porugis yang memakai perempuan yang tidak dikawini jelas melanggar hukun agama Islam; harga lada tidak lagi mengikuti harga pasar melainkan diintervensi; pejabat militer Portugis turut terlibat berpolitik memecah belah kerajaan adalah serangkai perbuatan mereka yang mendorong keresahan.

Tahun 1514, Ali Mughayat Syah mengangkat senjata

Menyikapi maraknya perilaku menyimpang dari pasukan Portugis dan ancaman kedaulatan negeri-negeri Islam yang semakin nyata; bergulir terus menerus  menjadi sumber pembicaraan, bagai api dalam sekam, keresahan ini suatu waktu akan mendorong perlawanan dalam masyarakat.

Tidak lama berselang, tokoh utama perlawanan rakyat lahir. Seorang bernama  Ali Mughayat Syah (sebelum mendirikan Kerajaan Aceh) menjadi Wali Negara Kerajaan Pidie di wilayah Achen (bekas lokasiKerajaan Darul Kamal dan Darul Imarah). Bersama saudaranya Raja Ibrahim, mereka mengangkat senjata guna menghentikan kerusakan yang ada.

Sebelum memulai gerakan perlawannya, Ali Mughayat Syah terlebih dahulu menyatakan kemerdekaan dan bebasnya Achen dari penguasaan Kerajaan Pedir. Deklarasi kemerdekaan ini dilakukan pada tahun 1514 Masehi.

Meskipun kekuatan militer kerajaan baru yang di deklarasikan Ali Mughayat Syah sepertinya belum begitu kuat, tetapi dengan perhitungan yang matang atas keadaan sosiologis yang tepat, ternyata menjadi faktir yang sangat menentukan kemenangan Ali Mughayat Syah melawan Portugis di Daya, Pedir dan Samudera Pasai.

Pertama, suasana kebatinan masyarakat di Kerajaan Daya, Pedir dan Samudera Pasai yang sangat membenci kehadiran Portugis. Kebencian ini semakin memuncak takkala mereka juga mengetahui bangsa Portugis telah menaklukan negeri-negeri Islam lainnya yang selama ini menjadi jejaring perdagangan masyarakat. ketidakpuasan masyarakat ini menjadi sebab mereka membantu aktif perjuangan Ali Mughayat Syah membebaskan dari cengkraman Portugis dan antek-anteknya;

Kedua,  revolusi yang ditawarkan Ali Mughayat Syah dengan cita-cita mewujudkan kesejahteraan dengan menjadikan Islam sebagai pemersatu adalah gagasan yang diterima oleh seluruh masyarakat saat itu. Ali Mughayat Syah menghendaki persatuan umat Islam dan hanya dengan menyatukan kekuatan 3 (tiga) kerajaan, maka persatuan Islam bisa menghancurkan kolonialis Portugis dimanapun berada. Ketiga, Ali Mughayat Syah mengetahui bahwa kekuataan perdagangan adalah sumber kesejahteraan. Ia menyadari hanya dengan menyatukan pengelolaan potensi perdagangan  (ekspor), khususnya lada, emas, kamper dan  produk unggulan lainnya, maka kekayaan bisa masuk ke dalam negeri dan rakyat akan mendapatkan harga yang semakin baik.

Tiga sebab di atas ditambah sebab-sebab lainnya, menjadi katalisator revolusi yang dajukan kepada rakyat 3 (tiga) kerajaan. Alhasil, Ali Mughayat Syah dan pasukannya mendapatkan dukungan dan berhasil mengalahkan militer Portugis dan sekutunya di Kerajaan Daya Tahun 1520, militer Portugis dan sekutunya di kerajaan Pedir Tahun 1521 Masehi dan militer Portugis dan sekutunya Kerajaan Samudera Pasai ditaklukan Tahun 1524 Masehi.

Revolusi pun berbuah dengan baik. Kerajaan Aceh berdiri di atas kekayaannya yang sangat diinginkan bangsa-bangsa Barat saat itu. Dan yang lebih agung dari ini semua, Islam menjadi ideologi pemersatu bangsa Aceh, sumber keberanian dan cita-cita  yang tiada henti mengejar dan menghancurkan kolonial Portugis di Asia Tenggara.

Penulis adalah anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Aceh-Sumatera Utara, tinggal di Aceh Besar

 

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin
HUT AJNN 6th - Inspektorat Aceh Jaya
HUT AJNN 6th - DPC Demokrat Aceh Jaya

Komentar

Loading...