Unduh Aplikasi
WTP Pemerintah Aceh 2019

Angka Penderita Stunting di Abdya Turun 19 Persen

Angka Penderita Stunting di Abdya Turun 19 Persen
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Abdya, Herlina. Foto: AJNN.Net/Fakhrul Razi Anwir.

ACEH BARAT DAYA - Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mencatat angka penderita stunting di kabupaten setempat pada tahun 2018, mengalami penurunan sebesar 19 persen jika dibandingkan dengan tahun 2017.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Abdya, Herlina memaparkan pada tahun 2017 pihaknya mencatat sebanyak 340 kasus penderita stunting. Namun, di tahun 2018 angka tersebut mengalami penurunan menjadi 276 kasus.

"Berdasarkan data yang kami miliki terjadi penurunan angka penderita stunting di Abdya," kata Herlina didampingi Kasie Keluarga dan Gizi, Haryono kepada AJNN, Rabu (13/3).

Data tersebut merupakan hasil pencatatan yang dilakukan 11 Puskesmas yang terdapat di Abdya. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan, angka penderita stunting terbesar tercatat di Puskesmas Blangpidie.

"Puskesmas Blangpidie 69 kasus, Puskesmas Bineh Krueng 48 kasus, Puskesmas Susoh dan Kuala Batee masing-masing sebesar 35 kasus penderita stunting," terangnya.

Ia menjelaskan bahwa stunting merupakan sebuah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak). Hal tersebut disebabkan kekurangan gizi dalam waktu yang lama.

"Sehingga pertumbuhan anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir," sambungnya.

Menurutnya, stunting merupakan persoalan gizi yang berlangsung lama, dimulai dari masa kehamilan si ibu sampai dengan anak berusia dua tahun.

"Itu masuk ke dalam masa penanganan stunting. Selama ini, penanganan dilakukan dengan memberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) kepada ibu hamil melalui posyandu," katanya.

Dinas Kesehatan Abdya tidak mengalokasikan anggaran khusus terkait penanganan masalah stunting, karena penanganan stunting yang dilakukan selama ini sekaligus dengan penanganan masalah gizi.

"Ada BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) DAK Non-Fisik dari pusat yang dikelolah Puskesmas sebagai pelayananan kesehatan terdepan, selain dari APBK," ujar Herlina.

Eliminasi Malaria

Komentar

Loading...