Unduh Aplikasi

Akademisi: Tiga Pendekatan Menghitung Nilai Utang Pemerintah ke Nyak Sandang

Akademisi: Tiga Pendekatan Menghitung Nilai Utang Pemerintah ke Nyak Sandang
Nyak Sandang ketika bertemu Presiden Joko Widodo. Foto: Biro Pers Kepresidenan

BANDA ACEH - Akademisi Universitas Syiah Kuala, Fathurrahman Anwar mengatakan ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan untuk menghitung nilai utang negara kepada Nyak Sandang, atas uang yang telah diberikannya untuk membeli pesawat pertama Indonesia.

Pertama, kata Fathur, adalah dengan menetapkan diskonto yang telah disesuaikan dengan berbagai peristiwa dan faktor-faktor seperti tersebut di atas. Karena tidak terdapat catatan akurat terkait kebijakan ekonomi yang dibuat serta inflasi yang terjadi selama 70 tahun terakhir, cara ini kurang bisa dieksekusi. Yang kedua, dengan mengkonversi nilai mata uang di tahun 1948 dengan menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK), dan menggunakan tingkat bunga obligasi pemerintah yang dipakai saat ini sebagai tingkat diskonto, cara ini pun memiliki kesulitan tersendiri karena persoalan tersebut di atas. Cara ketiga adalah dengan mengkonversi uang di tahun 1948 dengan menggunakan banchmark komoditas yang nilainya stabil seperti emas dan menggunakan diskonto tingkat bunga riil ini.

"Menurut saya, jika ingin menghitung nilai materiil yang pantas atas pinjaman Nyak Sandang tersebut, perlu mengetahui terlebih dahulu peristiwa dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai aset selama 70 tahun terkahir. Peristiwa dan faktor tersebut antara lain pemotongan nilai mata uang pada masa orde lama, devaluasi mata uang secara bertahap di masa orde baru dan hyper inflasi di masa-masa krisis," ungkap Fathurrahman kepada AJNN, Jumat (23/3).

Sebelumnya, Fathurrahman Anwar menganalisa jumlah nilai hutang yang harus dibayar oleh Pemerintah Pusat kepada Nyak Sandang yakni Rp 118 sekstiliun, dengan uang yang diberikan Nyak Sandang kepada negara Rp 100.

Baca: Akademisi: Negara Harus Bayar Utang Nyak Sandang Rp 118 Sekstiliun

Jika cara ketiga ditempuh, kata Fathur, maka dapat dikonversi uang Rp 100 dengan 50 gram emas pada tahun 1948. Selanjutnya jumlah emas yang diperoleh tersebut dikonversi menjadi rupiah dengan nilai Rp 28.925.000 (harga emas Rp 578.500per gram). Seterusnya didapat hitungan nilai pinjaman yang diberikan Nyak Sandang dengan menggunakan tingkat bunga riil (yang hitungan kasar sebesar 5 persen).

"Sehingga diperoleh total nilai yang harus dibayarkan pemerintah sebesar Rp 880.084.359. Saya rasa ini angka minimal yang pantas jika Pemerintah Indonesia memiliki goodwill untuk mengembalikan pinjaman Nyak Sandang," ujarnya.

Fathur mengungkapkan jika Rp 100 tersebut ditanam sawit seluas setengah hektare di tahun 1948, dengan asumsi ROI 33,19 persen per tahun (hitung sendiri modal Rp 28 juta, setelah 5 tahun keuntungan Rp 1 juta per bulan selama 20 tahun), jika keuntungan yang diperoleh tersebut digunakan untuk pengembangan usaha selama 70 tahun tanpa dikonsumsi (kondisi yang terjadi saat uang dipinjamkan), maka uang yang diperoleh dari usaha sawit Nyak Sandang akan sebesar Rp 51.623.754.129. Dengan menyumbangkan uang sebesar Rp 100 di tahun 1948 untuk pembelian pesawat, Nyak Sandang telah mengorbankan kesempatan usaha sawit yang dapat meningkatkan kekayaannya menjadi Rp 51.623.754.129.

Terlepas dari hitung-hitungan tersebut yang pada dasarnya jauh dari akurat, pemerintah harus menghargai pengorbanan yang dilakukan para peminjam tersebut. Ia yakin sebagian besar dari mereka tidak berniat untuk meminta uang tersebut dikembalikan.

Baca: Nyak Sandang Bertemu Presiden Jokowi

"Di tahun 1948 toh tinggal Aceh yang tidak diduduki Belanda. Hanya orang-orang yang memiliki jiwa patriotik saja yang masih punya keyakinan Indonesia bisa mempertahankan kemerdekaan. Nalar bisnis jelas tidak berlaku pada masa itu. Dalam nuansa inilah diskonto 100 persen yang saya tulis sebelumnya perlu didudukan. Itu hanya sekedar untuk memberikan gambaran besarnya pengorbanan seorang Nyak Sandang, bukan untuk menuntut pemerintah membayarkan uang sejumlah yang diperhitungkan yang akan buat Bu Sri Mulyani pusing tujuh keliling," kata Fathurrahman Anwar.

Jika pemerintah memiliki goodwill untuk mengembalikan pinjaman tersebut, maka angka Rp 880.084.359 adalah perhitungan paling minimal yang perlu dipertimbangkan. Tentu pemerintah perlu juga memberikan penghargaan immateriil lainnya.

"Dalam kasus Nyak Sandang saya rasa penghargaan immateriil ini telah terpenuhi dengan difasilitasinya Nyak Sandang naik pesawat dan jumpa dengan Presiden seperti keinginannya," jelasnya.

Pemerintah Aceh - Pelantikan Dewan Pengurus Kadin

Komentar

Loading...