PT SEMEN INDONESIA ACEH HENGKANG

Aceh TIdak Ramah Investasi

Aceh TIdak Ramah Investasi
Penggalan surat pengunduran PT SIA dari Pidie. Foto: ist.

BANDA ACEH - Ekonom Rustam Effendi menilai rencana PT Semen Indonesia Aceh untuk tidak lagi beroperasi di Aceh adalah sangat mengkhawatirkan. Menurut dia, rencana ini sangat kontraproduktif dengan langkah Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang baru saja menekan sejumlah kesepakatan dengan calon investor yang akan menanamkan modal di Aceh.

“Yang terjadi di Aceh, justru investasi di depan mata terancam tidak terealisasi sesuai harapan,” kata Rustam kepada AJNN, Jumat (13/10). Menurut Rustam, mundurnya SIA dari Pidie menandakan Aceh tidak sepenuhnya kondusif dan ramah untuk investasi.

Menurut Rustam, rencana SIA ini harus didukung penuh. Pemerintah dan masyarakat harus mendorong agar pemodal tidak mengubah niat dan mengalihkan investasi ke daerah lain. Berkaca pada kasus di Laweung, persoalan sengketa lahan yang menjadi alasan SIA mundur harusnya dapat diselesaikan dengan hati-hati dan bijaksana.

“Harusnya ada 'win-win solution'. Dalam artian, masyarakat mendapat manfaat dengan menjunjung nilai-nilai keadilan plus keberkahan dari keberadaan proyek,” kata Rustam.

Baca: Pembangunan Pabrik Semen di Pidie Dihentikan

Keberadaan pabrik semen yang bakal mempekerjakan ratusan orang itu jelas memberikan keuntungan bagi warga sekitar. Ini adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah. Keberadaan pabrik itu juga akan mendorong tumbuhnya industri kecil dan menengah setelah pabrik itu menampung tenaga kerja produktif yang selama ini kesulitan mencari pekerjaan.

Penghentian sementara operasional SIA ini juga menyebabkan terputusnya aliran modal ke Aceh. Padahal ini adalah “suplemen” yang menambah “darah” perekonomian Aceh menjadi lebih baik. Pemerintah kabupaten juga akan mendapatkan keuntungan karena pajak yang dibayarkan perusahaan ini akan menjadi penguat sumber penerimaan daerah dan menjadi penguat kapasitas fiskal bagi Pemerintah Kabupaten Pidie untuk jangka panjang.

“Belum lagi jika dihitung dari banyaknya usaha-usaha ekonomi yang bisa tumbuh akibat adanya aktivitas proyek ini, seperti transportasi, perdagangan, persewaan, dan sebagainya. Ini bukan nilai ekonomi yang kecil,” ujar Rustam.

Karena itu, Rustam berharap Irwandi merespons hal ini sesegera mungkin. Irwandi harus memanggil Bupati Pidie Roni Ahmad, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Pidie dan pemuka masyarakat yang terlibat menolak dan mendukung keberadaan pabrik ini. Persoalan ini harus dipikirkan dengan bijaksana, terutama demi kepentingan yang lebih besar.

“Tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan jika semua bersikap arif, tidak emosional. Pikirkan nasib daerah, termasuk nasib putra daerah yang butuh lapangan kerja demi kehidupan dan masa depan mereka. Kita juga seharusnya malu dengan alinea pembuka dari surat PT SIA yang ikut mendoakan agar bantuan CSR bermanfaat bagi masyarakat, sementara, di sisi lain, kita seakan "menolak" kehadiran mereka,” ujar Rustam.

data-ad-format="auto">

Komentar

Loading...