Unduh Aplikasi

800

800
ilustrasi: flying pigeon

SETELAH 800 hari sejak Novel Baswedan, penyidik senior di Komisi Pemberantasan Korupsi, disiram air keras, kepolisian tak kunjung mengungkap kasus mengenaskan ini. Bermacam kritik dan saran diusulkan kepada kepolisian, namun tak satupun membuahkan hasil; mengungkap pelaku kejahatan terhadap Novel itu.

Berbagai cara juga dilakukan oleh wadah pegawai KPK. Satu di antaranya adalah sayembara untuk mengungkap pelaku atau aktor intelektual penyerangan. Wadah Pegawai KPK bersama PP Muhammadiyah menyediakan masing-masing satu sepeda. Pemimpin KPK, Saut Situmorang, juga menyerahkan hadiah sejenis.

Sayembara ini menjadi sindiran terhadap Presiden Joko Widodo. Dan memang seharusnya, yang bersangkutan tersindir. Sepeda adalah hadiah yang sering diberikan Jokowi saat blusukan. Dan sayembara ini harusnya cukup untuk mendorong Jokowi memenuhi janjinya mengungkap kasus kekerasan terhadap Novel.

Akibat siraman itu, Novel hampir buta. Namun teror ini tidak hanya menghantui penyidik senior itu. Teror ini juga menjadi isyarat bahwa pelaku kejahatan akan terus melawan dan mempertahankan eksistensi mereka.

Tak peduli seberapa besar keinginan negara yang diwakilkan kepada KPK untuk memberantas korupsi, para penjahat ini akan terus menyerang sehingga mereka bebas melakukan kejahatan. 

Teror terhadap KPK dan aktivis antikorupsi akan terus terjadi. Termasuk di daerah-daerah. Para pelaku korupsi menjadikan kasus Novel ini sebagai pembelajaran dan modal penting untuk melaksanakan kejahatan mereka. Apalagi, negara tak berdaya melindungi aparatnya.

Sepeda KPK hanyalah simbol perlawanan. Dan jika presiden, selaku pemegang mandat kekuasaan tertinggi di negara ini, tak berdaya melawan kekuatan yang tak tampak, mungkin akan ada sayembara lain yang digelar untuk mengungkap kasus Novel.

HUT RI 74 - Pemkab Aceh Jaya
Idul Adha - Bank Aceh
Ubudiyah PMB 2019

Komentar

Loading...