Unduh Aplikasi

16 Anak Punk Ditangkap, Enam Diantaranya Perempuan

16 Anak Punk Ditangkap, Enam Diantaranya Perempuan
Para anak gelandangan sedang diberikan pembinaan oleh Muspika di halaman kantor Dinas Sosial Aceh Tamiang. Foto: Asrul

ACEH TAMIANG - Tim Gabungan Muspika Kota Kualasimpang menangkap sebanyak 16 anak gelandangan atau yang lebih dikenal dengan sebutan anak punk di Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, Kamis (6/12). Dari 16 tersebut, enam diantaranya perempuan.

Kepala Dinas Sosial Aceh Tamiang, Muhammad Alijon mengatakan, 16 anak gelandangan tersebut diamankan di dua lokasi di Kota Kualasimpang tepatnya di belakang ruko.

"Mereka diamankan berdasarkan laporan masyarakat yang mengaku resah dengan aktivitas para anak gelandangan tersebut," kata M. Alijon.

Menurut laporan masyarakat, kata dia, para anak gelandangan tersebut tidur berkumpul antara pria dan perempuan di belakang toko.

"Selain tidur bercampuran, para anak gelandangan tersebut juga dilaporkan mengkosumsi minuman keras jenis tuak dan membawa anjing dari Medan," sebutnya.

Adapun 16 anak punk yang ditangkap tersebut masing-masing, Nursani Hasibuan (20) warga Medan, Adinda (18) warga Lubuk Pakam, Safrida (18) warga Asahan, Maya Agraini (18) warga Asahan, Nadira (26) warga Gampong Blang, Langsa.

Khaidir (26) warga Kampung Landuh, Kualasimpang, Rizki (28) warga Cianjur Jawa Barat, M. Bayu (20) warga Bukit Rata, Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Deni (23) warga Aceh Besar, M. Antoni (19) warga Kampung Dalam, Aceh Tamiang, Ilham (22) warga Tanah Terban, Aceh Tamiang, Fahmi Ardiansyah (20) warga Jawa Tengah, Dian (22) warga Jawa Tengah dan Fakhrul Mukmin (19) warga Jawa Tengah.

Selain 16 nama tersebut, kata M. Alijon, dalam operasi penertiban yang dilakukan tim gabungan Muspika Kualasimpang juga ikut diamankan dua anak di bawah umur atas nama Sinta (5) dan Yudha (3). Dua anak d ibawah umur ini merupakan anak dari Nadira (26) warga Gampong Blang, Langsa.

Selain telah membuat keresahan terhadap masyarakat, kata M. Alijon, para gelandangan teraebut diamankan karena menggunakan pakaian yang tidak sesuai tatanan kehidupan masyarakat Aceh, khususnya Aceh Tamiang.

"Mereka menggunakan pakaian koyak-koyak dan mengguna tato. Untuk orang-orang seperti itu tidak ada tempat di Aceh Tamiang," sebut M. Alijon.

Menurut M. Alijon, setelah didata dan dibuat perjanjian agar tidak mengulang kembali di Dinas Sosial. Para anak gelandangan tersebut akan dikembalikan ke daerahnya masing-masing.

Komentar

Loading...